mata angin

aku pergi ke timur
menjemput matahari lebih dini
melihat ranting mentari menerpa rindang pohon
aku berjalan ke barat
bercengkrama dengan matahari senja lebih lama
melihat siluet diri terpaku terpesona
ke utara aku beranjak
menemukan dingin yang hangat
keramahan yang mendamaikan
di selatan ku melihat
cahaya merembes menekuri dinding penantian
membuatku terus-menerus bertahan untuk ada

sekarang aku
mengeja ingatan yang melapuk
menjalankan ziarah dalam tiap sujud kecilku
bertanya akankah terus perjalanan berlangsung
kapan aku akan Kau sudahi dari menikmati keagunganMu?

aku harap belum
semoga tak ada yang salah dengan sepotong harapan

hitam + putih = abu-abu \\ kebetulan

ada seseorang, yang memberikan sebuah referensi film kepada saya tadi malam..
film ini yang ternyata telah memenangkan ini. jangan salahkan saya klo rada telad jika berkaitan dengan perkembangan film. pengaruh tempat di sini yang tidak ada bioskopnya kali yah. dan saya yang terlalu malas untuk ngulik ngulik google ato detik.com untuk mencari berita. urusan saya ke dengan internet yah ngeblog.. *tuink*

"film yang complicated, tentang isu rasis di amrik dan banyak lagi. benar-benar nyata, bahwa ga ada yang mutlak di dunia ini. semua abu-abu. ini salah satu film terbaik oscar taon ini."

kurang lebih getuh perkataan dia waktu ngomongin film ini dengan saya liwat esemes. yang menarik perhatian saya, bukan oscarnya. masalah oscar malahan langsung ter-skip dengan baek dan benar. yang jadi pertanyaan saya selanjutnya malah berkaitan dengan pernyataannya tentang tidak ada ke-mutlak-an di dunia ini, bahwasanya semua adalah abu-abu.

"kamu setuju bahwa ada area abu-abu? tak hanya hitam dan putih?"

"yups, diriku setuju. ga ada yang mutlak. klo ga ada abu-abu, maka ga ada ragu. ga ada pilihan abstain. dan ga bakal ada toleransi ataupun kompromi"

"bukannya ragu-ragu, abstain, kompromi dan toleransi adalah pilihan-pilihan yang dibuat untuk sebuah ke-mutlak-an? absolutisme? gimana tentang kebetulan? kamu percaya sesuatu yang kebetulan?"

"abu-abu ada untuk menjembatani hitam dan putih. saat dua warna itu ketemu, terciptalah abu-abu. dan kita ga bisa menyangkal klo abu-abu itu memang ada. klo kebetulan, menurut aku, kebetulan kita anggap 'ada' karena keterbatasan pengetahuan kita. padahal segalanya udah diatur ama Sang Sutradara"

"klo ada Sang Sutradara, berarti SEMUANYA (tak ada pengecualian), jelas-jelas sesuatu yang mutlak toh? dengan demikian, bisa dikatakan, sama halnya dengan kebetulan, abu-abu muncul lantaran keterbatasan pengetahuan kita kan? abu-abu memang ada dalam urutan warna. bukan warna yang mutlak, tapi melainkan karena hasil campuran dari dua buah warna primer"

"hm, abu-abu muncul karena keterbatasan kita? aku masih blom nemu sanggahannya, tapi aku juga blom bisa nrima pernyataan itu juga. "

obrolan yang lumayan panjang dan 'berat' melalui media esemes, bukan penghantar tidur yang dianjurkan.. hehehe.. akhirnya obrolan itu disimpulkan untuk bersambung karena malam sudah terlalu menua dan negeri kapuk sudah memanggil-manggil.. dan jarum panjang jam berbentuk bundar itu sudah nangkring di angka dua belas dan jarum pendeknya di angka dua, dengan jarum detik terus berdetak..

ada tanggapan?
karena saya sendiri pun belum berhasil membuat kesimpulannya.. dan kami pun belum membuat sambungan dari perbincangan ini..