mudik

percakapan antara orang-orang yang sudah sangat merindukan untuk pulang ke rumah. dan sebentuk kebersamaan dalam rumah dan kehangatan keluarga. hehehe, saya dan kakak saya. saya dan papa saya. kakak saya yang terakhir pulang lebaran tahun lalu, dan saya yang *sepertinya* sangat sering pulang. orang tua saya, yang 'sepi' karena rumah yang lengang. dan karena rindunya, sampai-sampai percakapan yang terjadi menjadi sedikit error dan sounds.. hmm.. sounds dummy *tuink* :D

#1
"kucing di rumah ada lima lho kak"
"wah, banyak banged"
"ada yang hitem putih gituh, padahal ga pernah punya kucing kek gituan. udah gitu, tiap malem juga tidurnya diluar"
"berarti siangnya di dalam rumah ngapain dunk?"
"halah, pertanyaannya, kucingnya males-malesan, n klo ada orang di dapur yah ngeong-ngeong"
"wakakakkakakakakka"

#2
"eh, jembatan nya udah jadi kak"
"nah itu yang baru mo ditanya"
"iyep, semi permanen getuh"
"maksudnya?"
"yah gitu, cuman di cor gituh, ga di aspal"
"walah, wong yang dijembatani cuman sungai kecil itu, masa mo diaspal"
"hehehehe, yah maunya getuh, kan biar elite-an dikit"
"huuuu"
"tapi jalannya makin curam ke bawah gituh, klo ujan licin bwanged. blom lagi klo malam, gelap, ga ada lampu lagi"
"jadi bisa-bisa menggelundung dunk?"
"ya iya lah klo ga hati-hati"
"^@#$*^#@$*^@#$*^#$"

#3
"tetangga disana gimana de', udah nambah blom?"
"nambah gimana, yah gitu gitu aja.."
"lho katanya 'bu-itu' udah pindah ke bali"
"wew, klo pindah bukannya berarti malah berkurang yah bukannya nambah?"
"maksudnya udah ada yang gantiin blom, gitu lho.."
"yo belum noh, rumahnya dititipin ke sapa gituh, katanya mo dijual, berminat kak? sekitar 100jt"
"halah, edun, mahal nya"
"hehehehehhe.. rumah sendiri aja udah kosong gituhwww"

#4
"mama skarang punya banyak bunga di rumah"
"bunga apa aja?"
"ga teu.. diriku liadnya pot nya udah banyak aja di teras gituh, katanya ada yang dikasih ama ibu yang pindah itu"
"bunga nya apa aja?"
"ya ampun, kok ngotot siyh. diriku ga teu kakak kuh"
"wekekekekekkekekekeke"

#5
"rumahnya udah kek gimana yah skarang? kata papa banyak perubahannya"
"hm, rumahnya udah keliatan lebih lengang. sunyi gitu klo cuman mama n papa yang dirumah, bisa dipake wat maen petak umpet. ntar klo udah pulang maen yoo"
"yoooo.. seru niyh"
"ihhihihihihihihi"

#6
"de, kapan pulangnya?"
"insya allah tanggal 16 pa"
"kok nda tanggal 15 aja, ato tanggal 14 sekalian, tanggung gitu?"
"rencananya sih gitu, tapi minta izin ke atasan, katanya tanggal 16 aja, setor muka di kantor dulu"
"klo kakak kapan?"
"ga tau juga, katanya tanggal 19 ini"
"lama banged.. klo lama-lama ntar pas kalian sampe di sini, dirumahnya udah ga ada orang, ntar lebarannya tanggal 23 lho"
"hah? &%#$!+*@!!#&^"

ya ampun. saya kangen rumah lagi. ga terasa udah mo lebaran lagi. udah musim mudik lagi. insya allah besok sayanya brangkat mudik. naek bus. seperti biasa, perjalanan darat 24 jam lebih banyak. lumayan pegel-pegel. tapi gpp lah, mengingat apa yang menunggu di rumah. doain saya selamat yah dan perjalanannya lancar-lancar saja.. aminn.. met bermudik ria semuanya.. *wink*wink* ^_^

potongan puisi


aku tak mencintaimu seperti engkau adalah mawar,
atau topas atau panah anyelir yang membakar
aku mencintaimu selayaknya beberapa hal
terlarang dicintai, diam-diam
di sela-sela bayangan dan sukma

aku mencintaimu seperti tetumbuhan
yang urung mekar dan membawa jiwa
bunga-bunga itu di dalam dirinya,
dan karena cintamu,
aroma bumi yang pekat tumbuh diam-diam
di dalam tubuhku
aku mencintaimu, tanpa mengerti bagaimana,
sejak kapan, atau dari mana

aku mencintaimu dengan sederhana,
tanpa kebimbangan, tanpa kesombongan
aku mencintaimu seperti ini,
karena bagiku tak ada cara lain untuk mencintai

di sini, di mana "aku" dan "kau" tiada,
begitu erat, hingga tanganmu di atas dadaku
adalah tanganku
begitu erat, hingga ketika kau tertidur,
kelopak matakulah yang tertutup

Pablo Neruda, Soneta XVII

sejak 'menemukan' potongan puisi ini, saya benar-benar seperti kecanduan membacanya. berkali-kali. berulang-ulang. dan selalu saja berakhir dengan reaksi yang sama yang terurai. bibir yang membentuk lengkungan sempurna untuk sebuah senyum, dan kedua bola mata yang membola dan mengerjap takjub. sangat sederhana dan begitu mengena. suatu bentuk gombalisme yang, hmm, yang tidak terlalu gombal *heheh,makza deuh ah*. itu menurut saya. tapi saya ga ingin membuat resensi tentang puisi ini kok. hehehehe, saya hanyalah seorang penikmat saja ^_^

sayang, cemburu, setia, kebersamaan, rindu, sepertinya merupakan satu paket yang datang bersamaan dengan satu kata yang disebut cinta. cinta tidak pernah datang sendiri, tapi herannya sangat menginginkan keutuhan sebagai satu. sangat sulit untuk menjadi sesuatu yang sederhana, tapi sangat mudah untuk kemudian berubah menjadi sesuatu yang sangat complicated. universal thing, yang saking universalnya memiliki begitu banyak persepsi dari zaman ke zaman. hm, dan lagi-lagi.. saya tidak ingin membahas cinta ^_^ saya merasa tidak cukup benar untuk mengelu-elukan cinta, apalagi untuk menghujatnya. saya hanya begitu me- dan selalu senang bila di-, dua buah prefiks yang menunjukan keaktifan dan kedinamisan sebuah hidup dalam orbitnya. itu saja, hanya seperti itu dan akan tetap seperti itu.

kadang-kadang, rindu saya menebal, melewati lazuardi, menyebrangi horizon, dan merangkak menggapai langit ke tujuh *as if, it is exist* rindu yang menebal, diikuti dengan sayang yang bertalu-talu, beserta dengan keinginan yang menggebu-gebu. kombinasi itu, membuat saya menari. dalam tawa, selewat sebuah senyum, dan sekelebat sedu sedan. membuat saya menyanyi, meski nada sumbangnya mungkin memekakan genderang yang penting tidak membuat jera. bagi saya, hanya saya yang mendengarnya. hehehe, egois yah? dan tak jarang juga, rindu yang menebal ini, sayang yang bertalu-talu dan keinginan yang menggebu-gebu ini melempem seperti layaknya besi yang terus-menerus dipanaskan. melengkung menjadi kurva. membentuk orbit yang elips, entah pepat atau tidak. ragu. hanya satu kata itu yang muncul. namun tidak sampai membuat saya menyerah, kata orang saya tipe fighter survivor. haha, sedikit lucu mendengar penilaian mereka. tapi sempat terhenyak juga kala mengetahui kegigihan macam apa yang saya pakai yang sepertinya lepas dari pengamatan saya. maka seorang fighter survivor tidak lagi menjadi suatu kelucuan. hey, ini renik-renik kehidupan. sewajarnyalah klo saya berlaku dan bertindak mengikuti kata hati saya. bukannya tidak peduli, tapi saya kelewat peduli. akhirnya semua yang melempem itu, sesuatu yang melengkung itu, kembali menebal lagi, kembali berputar lagi, dan bahkan sepertinya sampai melewati langit ke tujuh. fase-fase itu. pembelajaran-pembelajaran itu. tidak pernah berhenti. kepercayaan ini. kebersamaan nyata semu ini. tarian jiwa yang menghentak, nyanyian hati yang menggaung. kebahagiaan ini. oh ya ampun, saya sangat berbahagia, saya tau itu ^_^

PS : pagi tadi indah yah? dan sangat penuh semangad. i love you..