jatuh cinta

setelah sekian kali, kok baru sekarang saya merasa jatuh cinta?
jadi beruntunglah kamu, karena semakin hari semakin menemukan yang lebih baik untuk dijatuhi cinta, untuk kemudian dicintai dan mencintaimu juga

makasiyh yah jeng, jeng, jeng.. untuk ngobrol-ngibril hari ini, lumayan men-turn red alertnya ke yellow alert 😉 *wink*

red alert

tak suka dengan alasan lupa. bisa dengan mudah memburamkan semuanya. tak perlu kabut tebal di pucuk pinus atau awan gelap yang siap mencurahkan tetesan dari langit. tak suka, karena alasannya tak enak untuk dirasa. atau sebenarnya memang bukan untuk dirasa? ah, sebaiknya saya mengecek tanggalan pada kalender duduk di meja kerja ini dulu. hmm, betul saja. ini bukan saat yang tepat untuk memberikan alasan LUPA pada sesuatu yang pernah saya katakan. atau memang tak pernah ada saat yang tepat, tapi untuk sekarang reaksinya mungkin agak berlebihan. terima saja yah?

aaaaaaaarrrrrrrrrggggggggh!!

privacy

labalaba : mas minta tolong ininininini dunk..
talitemali: hehehe....knapa ga dirimu ajajo yg ganti inininininya, itu kan daerah privasi dirimu 🙂
labalaba : di sininya leled mas.. ga bisa dibuka. bagian ininininininya.. selalu kembali ke halaman awal
talitemali : ooowww...oke deh, ntar diriku coba. apa toh dulu loginnya?
labalaba : udah pake anuanuanu.. inuinuinuinu nya masih sama juga..
talitemali : ok deh diriku coba. 
labalaba : btw, ngomong ngomong soal privasi.. privasi ituh apakah gerangan?
talitemali : hayah
labalaba : hehe.. maksudnya batasan jelasnya gituh
talitemali : dirimu jelek, ya maksudnya wilayah yg emang buat diri sendiri, skecil apapun itu beda2 sih tiap orang. diriku nganggep anuanuanu dan inuinuinuinu itu salah satu privasi. tapi ya ga slalu, hehehe
labalaba : klo bagi yang punya bukan privasi gimana? maksudnya bukan privasi disini, hanya pada orang orang tertentu
talitemali : buktinya diriku jg bagi2 anuanuanu dan inuinuinuinu dgn dirimu 🙂 nah itu dia, privasi bukan berarti ga dibagi sama skali
labalaba : hehehe.. kok dirimu masih mengatakan itu privasi diriku padahal udah diriku bagi ke dirimu juga anuanuanu dan inuinuinuinunya?
talitemali : bisa aja privasi itu untuk lingkup tertentu. dompet juga privasi. bahkan hp juga bisa jadi sbuah privasi
labalaba : hmm.. trus pertanyaannya masih sama kek yang diatas..
talitemali : apa?
labalaba : hehehe.. kok dirimu masih mengatakan itu privasi diriku padahal udah diriku bagi ke dirimu juga anuanuanu dan inuinuinuinunya?
talitemali : yeee...buat kita ga noh. kita kan dah sama2 tau
labalaba : talitemali : hehehe....knapa ga dirimu ajajo yg ganti ininininininya, itu kan daerah privasi dirimu 🙂 << dirimu kan bilang itu..
talitemali : tp orang laen ga boleh tau, hehehehe ya klo seijin dirimu ya gpp 🙂
labalaba : jejejejeje..
talitemali : okeh, privasi itu wilayah kita yang ga boleh orang laen memasukinya
labalaba : berarti yang menjaganya mesti kita sendiri dunk?
talitemali : iya, sementara yang lain harus bisa menghargainya. sebenernya sih klo smua orang saling menghargai, ya privasi itu ga perlu dijagain. saling jaga deh keknya
labalaba : terus yang punya privasi itu.. punya hak ga wat mengatakan sesutu tentang apa yang menjadi privasinya?
talitemali : iya punya donk
labalaba : misalnya, klo privasi itu melingkupi dua orang, apa harus atas persetujuan dua duanya untuk bisa diomongin?
talitemali : menurut diriku sih tetep harus diomongin berdua dulu itu lebih baek. apapun itu, diriku lebih suka untuk membicarakannya dulu, sebagai bentuk penghargaan atas orang itu noh
labalaba : iyepz.. wokeeh
talitemali : apa gunanya klo kita ada tp ga dianggep ada? dipersona non grata-kan
labalaba : woh, bahasanya canggih, persona non grata? -baru denger :D-
talitemali : itu kan bahasa hukum keknya dulu di ppkn ada, hahahaha
labalaba : gubrakzz.. hehehehe..

uhmm.. dan setelah ber-wikipedia-ria. oom wiki bilang gini..

Privacy is the ability of an individual or group to keep their lives and personal affairs out of public view, or to control the flow of information about themselves. Privacy is sometimes related to anonymity although it is often most highly valued by people who are publicly known. Privacy can be seen as an aspect of security—one in which trade-offs between the interests of one group and another can become particularly clear.

Privacy may be voluntarily sacrificed, normally in exchange for perceived benefits, but often with little benefit and very often with specific dangers and losses. An example of voluntary sacrifice is entering a sweepstakes or competitions. A person gives personal details (often for advertising purposes) in order to have a chance of winning a prize. Another example is where information voluntarily shared is later stolen or misused such as in identity theft. 

okeh deh.. itu bahasa inggris canggih sangad. hehehe. sebenarnya pertanyaan 'privasi ituh apakah gerangan?' muncul lantaran ngobrol ngobrol sore sama jeng ini, trus rada gemes juga pada dirinya gara-gara dirinya masih menganggap anuanuanu dan inuinuinuinu sebagai privasi. sehingga tercipta obrolan panjang yang rada nyolot [dari pihak saya sebenarnya] hmm.. tapi saya juga teteup mengakui, yang entah mengapa [karena blom menemukan alasannya sampe skarang] kenapa sepertinya dengan twenty something ini, saya seperti tergila gila pada sesuatu yang dilabeli privasi. padahal dulu-dulunya saya sebegitu ga peduliannya dengan kata ini *tuink* atau jangan jangan, dan lagi lagi, ini masalah pembuktian sesuatu yang entah apa dan kenapa harus dibuktikan? deuhhh.. beribet sendiri jadinya...

jalan memutar

kala rute jejakan hati dan pikir yang sudah ditempuh membawa pada keputusan baru, yang berupa keharusan mengambil jalan memutar untuk sampai pada tujuan yang sama, mungkin memang akan terasa lebih lama, akan terasa lebih berkelok, mungkin akan mengikis tak sampai habis kemauan diri untuk tak mengucap kata menyerah, disamping perasaan lelah yang sedemikian adanya. jalan memutar bukan tentang memutar jalan kan? ini tentang memungut remahan asa yang sengaja ditinggal sebagai jejak agar tak tersesat. untuk dipungut lagi, ditebarkan lagi, di tapakan jalan memutar. dan iyah, tentu saja, masih bersamamu...

bolehkah?

sudah disini lagi. perjalanan yang melelahkan yang ditempuh dengan berat hati dan berlinangan air mata [as always] *sigh* apalagi ditambah dengan tagline, "pergi dulu, daripada liad bus nya jalan duluan" yang tumben-tumbennya terucap dari mama saya, yang mengantarkan ke terminal waktu itu, haha, saya tak bisa berhenti menangis selama satu jam pertama perjalanan sialan nan keparat tersebut.

perjalanan sendiri. sedikit menyeruak magical moment miliknya, yang katanya berupa rasa senang yang betul betul menggetarkan jiwa. dan merupakan keajaiban bagi dirinya sendiri. membuat senyum, karena saya begitu mengharap keajaiban. keajaiban yang begitu saja 'pop up' di hadapan saya. tanpa perlu saya melakukan apa-apa. meski saya tau itulah kemustahilan yang sangat paling bisa dilakukan oleh saya sebagai manusia. dan akhirnya lagi-lagi mengantar senyum, kala melihat langit pagi. menyemburatkan jingga dan ungu. kemegahan mega. indah. saya speechless dan jatuh terlelap. dan terjaga dengan senyuman lagi.

sedikit muak. dengan perkataan, yang tersirat ataupun langsung terucap yang bermakna seperti ini,
'apalah artinya menikah klo harus berjauhan, suami ku disini, dan aku disana'
'bukankah sudah tugasnya seorang istri melayani suami?'
'aku harus belajar masak ini, karena suamiku menyukai masakan ini'
'harus melakukan ini, mumpung suamiku belum disini'
'suamiku begini begini, makanya aku mesti begitu begitu'
yang menjadi penghias hari-hari pertama saya di kantor, dari seorang teman. arrggh! kenapa saya jadi eneg dan ketakutan? bukan, bukan terhadap lembaga mahligai itu. tapi terhadap teman saya yang mengatakan itu. apa karena saya baru saja mengenalnya, dan pengenalan yang dilakukannya adalah sebagai seorang istri, bukan sebagai dirinya sendiri? iyah, saya tau saya tak bisa menjamin dengan apapun bahwa kelak nanti, suatu saat, tak akan ada seorang teman baru saya yang akan mengalami perasaan ketakutan dan kemuakan seperti saya saat ini. tapi tak bisakah dia sedikit bercerita 'atas nama aku?' atau lagi lagi, inikah saya, yang sedang berpada pada kemustahilan? keengganan semesta untuk mewujudkan?

pada akhirnya, saya ini tak tau apa-apa. mungkin karena belum ada yang benar benar saya ingini. hingga untuk menjalani enggan, bersyukur pun tak mau. ingin, terasa begitu asing. baik di telinga, atau di rasa. uhhm, ada sedikit, tentang ingin yang berupa cita dan cita diselipkan alfabet n. tapi mengapa begitu banyak mengundang tanya? bahkan kalimat tanya yang diawali kenapa, yang konon, menurut kaidahnya harus dijawab dengan kalimat yang diawali karena. padahal mengenai sebab musabab bukanlah sesuatu yang menyenangkan. bagi saya. enggan sekali memungut remahan ingatan di labirin ini agar bisa membawa saya ke titik awal. tapi tikungan yang sedang berusaha saya lalui, terlalu meruncing dan membuat sakit saat menohok ulu hati. hingga membuat saya, ingin berputus asa sejenak. bolehkah?

katanya [entah kata siapa] pengetahuan itu membuahkan ketidakyakinan. tapi apakah ketidaktahuan akan dengan senang hati memantapkan yakin di pikir dan di sukma?