October 24th, 2007

cerita pulang

warna rasakata eva in categorized

adalah perubahan yang memiliki janji temu dengan saya. tanpa kabar mengabari. datang begitu saja, menyapa dalam setiap satu tarikan nafas. merajai sapuan pandangan mata, menguasai gendang telinga, kadang sedikit menjungkirbalikkan rasa dalam hitungan detik. di pojokan tikungan tempat. dalam sudut cerita. oleh orangorang. baik yang dikenal ataupun tak dikenal.

lebih baik?
menyesakkan?
kemajuan?
membuat miris?
kemunduran?
turut berbahagia?

ah, mengkotakkotakkan arti hanya akan membuat sempit apa yang sudah cukup kecil ini. saya sedang berada pada suatu ruang, hanya ingin mengamati saja. menikmati. mensyukuri. memahami bersyukur dengan sebaikbaiknya. hal kecil sederhana yang terlupakan, yang tak cukup dilakukan sekali saja.

banyak yang terasa baru, segala yang lama mungkin akan tinggal cerita
dan kita tak punya waktu untuk berduka.
banyak yang terasa musnah, atau barangkali kita saja yang gagap untuk berubah

joko pinurbo

dan hidup memanglah serangkaian anugerah serta berkah.

hujan yang ingkar janji pun tak menyurutkan rasa, malah membuncahkan asa, tanpa enggan turut menyisipkan rindu untuk ingin lagi. pulang kali ini tetap punya cerita, meski hanya sejenak.

P.S uh, saya memang tak cukup pandai menyambung tali silaturahmi setiap lebaran tiba. tak mengirimkan ataupun membalas pesanpesan singkat untuk meminta maaf atau ucapan selamat atas hari kemenangan, tak menuliskan satu postingan khusus yang ‘berbau’ minta maaf, lebaran, atau mudik, melakukan blogwalking tapi tak pernah meninggalkan jejak.. hmm… hingga pada akhirnya, baru tercipta satu cerita pulang, dan permohonan maaf yang datangnya telad yang saya letakkan dalam notice pula. aahh..

mengutip perkataan teman saya, “tak turut begitu, bukan berarti tak menghargai, tapi penghargaannya mungkin bukan seperti itu” *pembenarandotcom*

dan kirakira begitulah..

minal aidin wal faidzin yah!

mohon maaf lahir dan batin…

October 2nd, 2007

menangkap momentum

warna rasakata eva in categorized

untuk pagi yang selalu punya cerita :

dedaunan kering di pohon mangga yang buahnya sangat ranum itu, bergelayutan, menunggu waktunya meluruh tersentak angin dan jatuh ke tanah. tawa riang anakanak, dimana keriaan merupakan ceria, permainan adalah warisan dan buah kreativitas. pekerja yang bergegas meski berimpitan dengan putaran jarum jam, masih sempat mengurai senyum. penjual jasa yang dengan ketrampilannya mengejar target sebagai bekal hari raya.

terima kasih.

karena disitu ada semangat yang bisa mengkatrol hari ini untuk tak berlalu tanpa makna. sebelum langkah saya terayun pada rutinitas dan saya berubah menjadi orang yang mengenyangkan prasangka. mengejar peristiwa. dan mengharuskan adanya alasan atas perihalperihal.

dan, saat angkot yang hanya berpenumpang satu orang itu mulai berbicara, yang diwakili oleh sopir angkotnya, dengan serentetan pertanyaan pada seperempat perjalanan lagi untuk tiba di kantor,
“mbak, kok melamun terus? namanya bukan Ika yah? soalnya mirip banged dengan kenalan saya yang kuliah di Kampus Hijau”

yang dengan tangkas langsung saya jawab,
“bukan, nama saya Sita”

maka saya tau, momentum itu telah berakhir.

selamat hari ini!

« Previous Page