ada!

setengah empat lewat tujuh menit di pojokan monitor. uhh, padahal badan serasa remuk, dan seharian ini saya sudah menyatakan kepada siapa saja, bahwa saya capek. bukannya saya mo sok-sok-an insomnia atau sok kuat atau gimanagimana, tapi ngantuk saya hilang, lenyap, sesudah melakukan rally nonton film ini dan ini. belum lagi tetabuhan halilintar dan kilat diluar, tambah membuat enggan mata memejam. ayamayam sudah mulai berkokok riuh lalu hening lagi. gerimis kecil menyentuh atap dengan lembutnya, harap saya itu bisa berlangsung sampai pagi nanti.

ada tanya saat ini, saya yang pergi dan kemudian kembali hanya untuk sejenak, bukan untuk menetap, kenapa masih bisa berharap semua tetap sama? kenapa saya merasa memiliki hak untuk mengharap bahwa waktu tak akan menciptakan perubahan yang banyak? padahal saya seperti sedang transit saja disini. ujungujungnya stempel tak tahu malu rasanya pas sekali bagi saya. tapi, bilamana saya tetap menemukan halhal yang tetap sama dengan caranya sendiri, saya seperti anak kecil yang diberikan begitu banyak permen dan coklat oleh orang asing. entah itu euforia sesaat atau apa, yang jelas perasaan seperti itu sangat menyenangkan. ekstase waktu yang tak bertepi. yang menghantarkan saya membumbung tinggi, dan kemudian membentur partikel detik, yang membantu saya untuk menjejak pijakan tanpa gamang. momentum.

"ada!" itu seruan saya pertama kali ketika menemukan sesuatu yang masih sama disini dan mungkin masih bisa terkejar sedikit.

s – e – d – i – k – i - t

satu sudut, entah pertigaan atau perempatan atau perlimaan. entah. biang macet pagi sampai siang hari saat saya harus berkejaran dengan jam terlambat sekolah ataupun jam terlambat ke kantor saat saya masih di sini. dulu. itu sekitar dua sampai delapan tahun lalu. ehw, time flies. biasa, dan saya harus purapura kaget atas waktu yang terbang ini. satu sudut, dimana tempat bimbingan belajar bertemu dengan tempat bermain play station, tempat makan gado-gado yang enak, yang klo diliad sekarang makin meluas tempatnya, dan sebuah rumah sakit jiwa, mengapit sebuah tempat mengisi bensin. iyah, sebuah sudut yang kompleks memang. dan di sudut itu pula, sejak saya melewati tempat itu, dan sampai sekarang, masih saja berdiri seseorang. lelaki, dengan jaket birunya yang bertuliskan nama sebuah organisasi keremajaan, dilengkapi topi coklat andalannya, dengan potongan rambut yang kadang gondrong kadang cepak. dengan jeans belel beserta kets butut tak kadang sendal jepit. masih dengan sketsa wajah yang sama. yang pada saat saya melihatnya, pertama kali lagi setelah sekian lama, memeluk tumpukan koran dengan tangan kiri, dan tangan kanan melambaikan koran andalan kota ini dengan headline : MANADO KEHILANGAN PENDAPATAN RP. 1,5 M.

"masih ada!" ketika saya menemukan satu lagi sesuatu yang ternyata masih dilaksanakan di sini.

sebuah perhelatan, merayakan sesuatu yang bertambah usianya, lombalomba, kreativitas dan olahraga. dan duduk melihat perhelatan itu berlangsung bersama teman semasa sma, seperti menancapkan cerita yang lama terulang lagi dan terus menghuni ruang yang sama di hati. de javu. bukan untuk mematahkan sayapsayap yang lagi berusaha mengepak lebar. sekedar mengenang, setelah sekian lama tak pernah bersisian.

"ternyata ada!" sempat membuat tertegun, kala satu orang masih bisa mengingat saya lengkap dengan peristiwa yang melatarinya.

seorang lelaki paruh baya. masih dengan angkot tuanya. dengan mata awasnya yang mengamati arus lalulintas jalan yang dilaluinya. kadang hatihati, kadang ngebut, mengejar butirbutir nasi setiap harinya. mungkin. kali ini angkotnya dilengkapi dengan musik. full musik. full angin. full asap. dan tentu saja, full penumpangnya juga. syukurlah. sebuah sapaan ketika saya turun dari angkot dan membayar jasanya, "dompetnya tidak jatuh lagi kan? udah diperiksa baikbaik?" sambil mengurai senyum yang melenyapkan rasa lelah saya. ternyata lelaki paruh baya itu masih mengenali saya : seorang penumpang yang merepotkan.

empat tahun silam. malam yang makin melarut, duduk di tepi jalan sambil menangis sesenggukan menanti sebuah angkot lewat lagi, enggan untuk pulang karena telah melakukan salah. menghilangkan dana pendaftaran kuliah gratis. dengan keyakinan yang entah darimana, berjudi dengan takdir, mempercayai bahwa yang hilang itu ada di angkot si lelaki paruh baya. dan entah keberuntungan dari mana, yang hilang ditemukan di angkot itu, masih utuh, teronggok di kursi belakang yang gelap.

ternyata takdir menakdirkan saya untuk melalui jalan itu untuk bisa sampai di saat ini. menceritakannya. tentang seorang lelaki paruh baya tanpa nama, dengan angkot tuanya, yang hanya bertukar kata dalam ucapan "terima kasih".

iyah, tempat ini berubah, dan saya pun berubah, mengharapkan kedua perubahan itu bisa menuntun pada sesuatu yang sama pada suatu waktu di masa lalu bukanlah hal yang bijak, begitu? banyak yang hilang. ADA yang masih tertinggal meski mungkin tak tetap sama. setidaknya bisa mengikis rasa takut saya pada kota berwajah baru ini. yang saya perlukan hanya memencet tombol ’slow-motion-mode-on’ pada remote waktu yang sedang berputar di kepala saya, dan mengais tempattempat yang mungkin masih menyimpan guratan yang tak jauh berbeda nan sederhana.

sederhana

thoreau_zitat.gif

*
di selasela kemumetan angkaangka sore beberapa hari kemarin, yang kemudian diselingi dengan pesanpesan singkat, "klo simplicity are completely complex, bagaimana about complexity?" bunyi sms mbak dew. seadanya, saya menjawab, "belakangan, sederhana adalah kompleksitas itu sendiri, dua sisi mata uang, beberapa rangkaian pilihan, dan terserah kita akan berdiri dimana"

sekiranya, saya ingin menjawabnya kembali, seperti ini,

yang saya inginkan hanyalah satu kesederhanaan untuk melengkapi semuanya.

ketika untaian kata bisa terlontar tanpa perlu dorongan yang keras. ketika kalimatkalimat bisa mengalir ke muaranya, samudera rasa nan luas itu. kala tawatawa tercipta karena di situ memang terselip suatu canda, cerita ceria, dan buncah bahagia. kala tangistangis terurai oleh bongkahan resah, sejumput nelangsa, sekeping gulana.

lesapan angin, tabuhan rinai hujan, terik mentari, lelehan kabut : ingin duduk diam menikmati, dengan satu pinta sederhana : menjamah kesederhanaan itu sendiri, tanpa janjijanji.

karena rumit melelahkan. karena sulit menyesakkan. karena syarat membawa pias menuntun makna membias.

mungkin sederhana itu sebatas sekat tipis, garis imajinasi yang memang membaurkan segala untuk tak menjadi sederhana.

mungkin…..

simplicity are completely complex, no?

saya nyatakan selesai untuk cerita hari itu.

**
besoknya, seorang fasilitator, pembagitahu, datang dengan kebersehajaan yang berkharisma. turut serta sejuta pesona. hening sejenak, dan mulut berdecak kagum. sebagai introduksi,

setelah tujuhbelastahun pernikahan, suatu hari istri saya datang, pulang kerumah dan meminta saya untuk menceraikan dia. dia terlibat dengan Lia Eden. beserta anak saya, yang pada waktu itu sedang di tingkat akhir sebuah perguruan tinggi kedinasan, yang seharusnya mengikuti ujian akhir tapi pada akhirnya di drop out karena dia tidak datang ke ujian itu karena sedang dipanggil oleh Lia Eden" mendengar introduksi itu, saya sempat terbahak kecil, di sela tawa kecil itu, yang terlintas di benak saya adalah alur cerita khas dongeng, "and they live happily ever after", permintaan cerai istrinya hanya merupakan riak kecil pada sweet seventeen pernikahan mereka. dan anaknya, mestinya sekarang sudah bekerja lagi, sewajarnya, di tempat yang seharusnya. senyum, sorot mata, intonasi kalimat yang ringan, dan
sketsa wajahnya mendorong saya untuk berpikir seperti itu. tak ada mendung menggantung dalam setiap pengucapan katakatanya. mengalir begitu saja, ke wadah yang seharusnya. kalimat selanjutnya, cukup membungkam saya dan membuntukan kisah dongeng dalam alam pikiran saya, sekejap."saya bercerai, dan anak saya, dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan, sekarang dalam proses recovery"

masih dengan segala ekspresi dan ketenangan yang dia miliki pada introduksi pembukaan. dan saya hanya bisa mengutuk segala ke-sok-tahu-an saya di tempat duduk dan merutuki 'penipuan karakter' yang dilakukan oleh orang berkharisma di depan saya itu, dan yah, tentu saja, dia memainkan perannya dengan sangat baik.

lagilagi bergemuruh tanya dalam benak, bagaimana bisa seseorang menceritakan sesuatu yang pada nyatanya bukan cerita sederhana, dengan cara yang sangat sederhana seperti itu? kemana lukanya dibuang? terbuat dari apa rasanya? sebegitu kuatkah akal seorang lelaki sehingga rasa harus tertunduk keparat dan berlalu begitu saja? ataukah mungkin, hatinya hilang dipatok ayam yang berkokok pagi hari setelah mimpi buruknya itu? saat itu, satusatunya yang bisa saya ingat adalah kalimat yang sering saya temukan dalam beberapa bacaan fiksi tentang rasa sakit,

karena dia telah melukai saya begitu dalam, maka tak mungkin saya akan mengecapi rasa sakit lagi karenanya

begitukah? sebegitunyatakah potongan kalimat itu?

hari itu, layar diturunkan, lampulampu dipadamkan, pemain peran berlalu pergi, panggung mulai sunyi, saya tertinggal, masih dengan topeng antagonis-protagonis bergantigantian, terpasang, enggan terlepas. sepi. mempertanyakan kesederhanaan, lagi.

tadi malam, saat temanteman saya berkutat dengan buku undangundang, sebagai bekal ujian hari ini, saya menanamkan diri saya di depan tv dan menonton film ini. ada satu kalimat, yang ketika dialihbahasakan kirakira akan menjadi seperti ini,

jika kamu merasakannya, maka katakanlah

mungkin klo saat ini, maka akan tertuang dalam satu jargon yang lagi ngetop, "gitu aja kok repot". hehe...

meski pikiran saya sempat melanglangbuana kemanamana, hingga sampai pada satu keadaan awangawang, bila saya lagi merindu seseorang, maka saya akan mengatakan padanya klo saya rindu. yang tanpa bisa saya cegah, lagilagi berbuah tanya, rindu itu rasa atau kata? yang sudah tentu saja saya tak punya jawabannya. maka ketika film itu berakhir, saya memasrahkan ujian hari ini pada kebisaan saya mengingat teori pemaksaan selama dua belas hari yang lalu, ditambah dengan kreativitas menganalisa pertanyaan yang kadang cenderung sering 'ndablek puol'.

keterangan gambar : diambil dengan hormat dan tentu saja tanpa izin, dari sini. dan menemukan kalimat yang menyegarkan seperti ini :
“Our life is frittered away by detail," Henry David Thoreau (1817-1862)

yes, happy wiken all!!