November 24th, 2007

sederhana

warna rasakata eva in categorized, uncategorized

thoreau_zitat.gif

*
di selasela kemumetan angkaangka sore beberapa hari kemarin, yang kemudian diselingi dengan pesanpesan singkat, “klo simplicity are completely complex, bagaimana about complexity?” bunyi sms mbak dew. seadanya, saya menjawab, “belakangan, sederhana adalah kompleksitas itu sendiri, dua sisi mata uang, beberapa rangkaian pilihan, dan terserah kita akan berdiri dimana

sekiranya, saya ingin menjawabnya kembali, seperti ini,

yang saya inginkan hanyalah satu kesederhanaan untuk melengkapi semuanya.

ketika untaian kata bisa terlontar tanpa perlu dorongan yang keras. ketika kalimatkalimat bisa mengalir ke muaranya, samudera rasa nan luas itu. kala tawatawa tercipta karena di situ memang terselip suatu canda, cerita ceria, dan buncah bahagia. kala tangistangis terurai oleh bongkahan resah, sejumput nelangsa, sekeping gulana.

lesapan angin, tabuhan rinai hujan, terik mentari, lelehan kabut : ingin duduk diam menikmati, dengan satu pinta sederhana : menjamah kesederhanaan itu sendiri, tanpa janjijanji.

karena rumit melelahkan. karena sulit menyesakkan. karena syarat membawa pias menuntun makna membias.

mungkin sederhana itu sebatas sekat tipis, garis imajinasi yang memang membaurkan segala untuk tak menjadi sederhana.

mungkin…..

simplicity are completely complex, no?

saya nyatakan selesai untuk cerita hari itu.

**
besoknya, seorang fasilitator, pembagitahu, datang dengan kebersehajaan yang berkharisma. turut serta sejuta pesona. hening sejenak, dan mulut berdecak kagum. sebagai introduksi,

setelah tujuhbelastahun pernikahan, suatu hari istri saya datang, pulang kerumah dan meminta saya untuk menceraikan dia. dia terlibat dengan Lia Eden. beserta anak saya, yang pada waktu itu sedang di tingkat akhir sebuah perguruan tinggi kedinasan, yang seharusnya mengikuti ujian akhir tapi pada akhirnya di drop out karena dia tidak datang ke ujian itu karena sedang dipanggil oleh Lia Eden” mendengar introduksi itu, saya sempat terbahak kecil, di sela tawa kecil itu, yang terlintas di benak saya adalah alur cerita khas dongeng, “and they live happily ever after“, permintaan cerai istrinya hanya merupakan riak kecil pada sweet seventeen pernikahan mereka. dan anaknya, mestinya sekarang sudah bekerja lagi, sewajarnya, di tempat yang seharusnya. senyum, sorot mata, intonasi kalimat yang ringan, dan
sketsa wajahnya mendorong saya untuk berpikir seperti itu. tak ada mendung menggantung dalam setiap pengucapan katakatanya. mengalir begitu saja, ke wadah yang seharusnya. kalimat selanjutnya, cukup membungkam saya dan membuntukan kisah dongeng dalam alam pikiran saya, sekejap.”saya bercerai, dan anak saya, dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan, sekarang dalam proses recovery

masih dengan segala ekspresi dan ketenangan yang dia miliki pada introduksi pembukaan. dan saya hanya bisa mengutuk segala ke-sok-tahu-an saya di tempat duduk dan merutuki ‘penipuan karakter’ yang dilakukan oleh orang berkharisma di depan saya itu, dan yah, tentu saja, dia memainkan perannya dengan sangat baik.

lagilagi bergemuruh tanya dalam benak, bagaimana bisa seseorang menceritakan sesuatu yang pada nyatanya bukan cerita sederhana, dengan cara yang sangat sederhana seperti itu? kemana lukanya dibuang? terbuat dari apa rasanya? sebegitu kuatkah akal seorang lelaki sehingga rasa harus tertunduk keparat dan berlalu begitu saja? ataukah mungkin, hatinya hilang dipatok ayam yang berkokok pagi hari setelah mimpi buruknya itu? saat itu, satusatunya yang bisa saya ingat adalah kalimat yang sering saya temukan dalam beberapa bacaan fiksi tentang rasa sakit,

karena dia telah melukai saya begitu dalam, maka tak mungkin saya akan mengecapi rasa sakit lagi karenanya

begitukah? sebegitunyatakah potongan kalimat itu?

hari itu, layar diturunkan, lampulampu dipadamkan, pemain peran berlalu pergi, panggung mulai sunyi, saya tertinggal, masih dengan topeng antagonis-protagonis bergantigantian, terpasang, enggan terlepas. sepi. mempertanyakan kesederhanaan, lagi.

tadi malam, saat temanteman saya berkutat dengan buku undangundang, sebagai bekal ujian hari ini, saya menanamkan diri saya di depan tv dan menonton film ini. ada satu kalimat, yang ketika dialihbahasakan kirakira akan menjadi seperti ini,

jika kamu merasakannya, maka katakanlah

mungkin klo saat ini, maka akan tertuang dalam satu jargon yang lagi ngetop, “gitu aja kok repot”. hehe…

meski pikiran saya sempat melanglangbuana kemanamana, hingga sampai pada satu keadaan awangawang, bila saya lagi merindu seseorang, maka saya akan mengatakan padanya klo saya rindu. yang tanpa bisa saya cegah, lagilagi berbuah tanya, rindu itu rasa atau kata? yang sudah tentu saja saya tak punya jawabannya. maka ketika film itu berakhir, saya memasrahkan ujian hari ini pada kebisaan saya mengingat teori pemaksaan selama dua belas hari yang lalu, ditambah dengan kreativitas menganalisa pertanyaan yang kadang cenderung sering ‘ndablek puol’.

keterangan gambar : diambil dengan hormat dan tentu saja tanpa izin, dari sini. dan menemukan kalimat yang menyegarkan seperti ini :
“Our life is frittered away by detail,” Henry David Thoreau (1817-1862)

yes, happy wiken all!!

3 Responses to ' sederhana '

Subscribe to comments with RSS or TrackBack to ' sederhana '.

  1. venus said,

    on November 24th, 2007 at 3:47 pm

    wuih, va……kliyengan….:D

  2. iq said,

    on November 26th, 2007 at 2:41 pm

    uh uh… post seperti ini nih yang saya tunggu2. bergelut dengan angka ternyata gak ngefek ya, tetep aja puitis. ayayayay.

    intranet sepi nih, menunggu dirimu ‘pulang’.

  3. crushdew said,

    on November 27th, 2007 at 8:15 am

    weisss..va, kalo jawabanmu waktu itu sepanjang itu, wah bisa-bisa…

Leave a reply

:mrgreen: :neutral: :twisted: :shock: :smile: :???: :cool: :evil: :grin: :oops: :razz: :roll: :wink: :cry: :eek: :lol: :mad: :sad: