November 16th, 2007

hari ke-5

warna rasakata eva in uncategorized

*keluh mode on*

duh!
baru hari ke lima, dari total duapuluhdelapan hari aktif. baru hari ke lima, dan rasa kantuk tak juga menyingkir meski saya sudah mengawali hari dengan semangad paling menggebu yang saya punyai. baru hari ke lima, dengan berbagai macam pemberi tahu yang sedia berbagi, tapi kantuk pantang menyerah. baru hari ke lima, dan ada rindu yang mampet, salurannya tersumbat, membuat sebah. baru hari ke lima, ketika riuh hujan mengetukngetuk atap, membuat saya begitu ingin berlari keluar dan menikmatinya, sayang sekali kalo musim ini lewat lalu, apalagi saya sedang disini, tapi tak bisa..

kata seorang pemberi tahu,

“jangan tegang, membuat gugup saja, ujungnya kebosanan. banyakbanyak menggunakan otak kanan daripada kiri, karena duapuluhdelapan hari bukan waktu yang terlalu singkat”

saya tak tegang pun gugup, dan tak perlu disebut otak mana yang banyak bekerja. namun bosan layaknya keniscayaan, bagi saya, disini, saat ini..

*keluh mode off*

smangaaad!! ^-^ *wink*

November 4th, 2007

minta

warna rasakata eva in categorized

pada angin, tolong bertiup sekencangkencangnya yang kamu bisa, sore ini

pada awan kelabu dan gelap, jangan dulu air pemberatmu itu kau curahkan di sini

pada langit, degradasi warna sore mu kurindu, mau kah kau bersua dengan ku?

pada matahari, teriklah dengan kuning keemasanmu!

pada hujan, saya rindu, tapi temunya kita tunda dulu yah?

karena, saya sedang takut terbang saat ini.. dan saya harus meminta nyaman dari suara kekasih, dilengkapi dengan aman dari wajahwajah yang tak saya kenal

-bandara mutiara, palu-

November 2nd, 2007

ironi

warna rasakata eva in categorized

“baca novel setebal kamus inggris-indonesia bisa habis dalam sehari, kok baca beberapa komik setipis itu tiga hari belum selesaiselesai?”

itu kata teman seruangan saya selaku pemasok komik sebagai pengisi waktu di antara banyaknya kesenggangan waktu di kantor ini. dan saya cuman bisa cengengesan.

bagaimana yah menjelaskannya?

bahwasanya, saya ini penggemar berat dari keteraturan dan keselarasan. iyah, keteraturan yang itu, beserta keselarasan yang itu juga. dimana semua berjalan sewajarnya, pada porosnya, rapi, dan sesuai urutan; dalam persepsi saya tentunya.

misalnya, saya senang sekali melihat meja kerja tertata rapi, tanpa ada kertaskertas berceceran dimanamana. atau filefile di dalam PC tersusun berdasarkan jenis filenya dan berurut berdasarkan tanggal file itu tercipta. atau bajubaju di jemuran, bagian kerahnya dibuat searah semuanya. baju yang perlu digantung dihanger, warna hangernya disesuaikan dengan warna baju yang akan digantung di hanger itu. bajubaju yang ada di lemari tersusun berdasarkan sering atau tidaknya bajubaju itu dipakai dengan degradasi warna dari warna yang paling muda sampai yang paling tua. dilanjutkan dengan bukubuku yang disusun berdasarkan pengarangnya.

yah yah, keteraturan semacam itulah pokoknya. klo tidak seperti itu, rasanya mata ini sepet ngeliatnya. kurang pas. dan saya akan ngomelngomel pendek dalam hati, lalu cuek saja (??!!??!!)

nah kan, sudah mulai bingung?

coba saya jelaskan lagi. misalnya, iyah, saya tidak suka klo winamp di setting shuffle. mengapa? dalam proses pemilihan lagu untuk playlist, saya sudah melakukannya secara tak berurutan. dipilih berdasarkan tingkat keinginan saya untuk mendengar lagulagu itu. jadi, klo winampnya disetting shuffle tentu akan membuat kesal kan, wong saya ingin dengar lagu apa terlebih dahulu kok yo yang nyanyi lagu apa. begitu kirakira. akan terdengar acak dan sesak di telinga. kecuali, ada pengecualiannya donk pastinya, saat saya sedang ingin bermain dengan kejutan dan kenangan, serta sedang menikmati peran sebagai seorang drama queen yang mencari soundtrack untuk lakonnya, maka winampnya disetting shuffle dan playlistnya akan berisi seluruh lagu yang ada di PC ini. dan tadaaaa, saya tak akan peduli bila lagu yang sama bisa terulang berkalikali lantaran efek dari tuan shuffle yang terhormat ini.

atau…

jangan tanyakan soal ketepatan waktu pada saya. klo kata banyak orang, seorang yang menyukai keteraturan dan keselarasan pastilah menghargai waktu, dalam hal ini selalu tepat waktu, tidak akan terlambat alias on time, karena klo terlambat otomatis akan membuat yang teratur dan selaras itu sedikit memudar toh? tapi klo ada yang mengatakan saya tidak menghargai waktu maka saya akan misuhmisuh juga. lha, saya terlambat bukan karena saya ingin melambatkan diri kok. ada faktor x dimanamana. yang kerjasama bangunmembangun keteraturan dan keselarasan. saya hanya bagian terkecil dari faktor x ini, dan tentu saja saya begitu menikmati semuanya, meski yang terkecil sekalipun, hingga selaras dan teratur maknanya bias dan bukan merupakan artinya yang kebanyakan. jadi, tak tepat waktu bukan berarti tak menghargai waktu, menurut saya.

atau..

saya begitu menyukai warna putih, disamping hitam dan biru. untuk pakaian atau assesoris. kesannya bersih, enak dipandang, dan rapi pastinya. tapi, dan lagilagi tapi, pakaian yang sedianya putih, sudah mendapatkan tambahan warnawarni dimanamana seiring lamanya saya mengenakan benda berwarna putih itu. baik karena noda makanan, minuman, ataupun lantaran saya suka selonjoran begitu saja di tangga kantor ataupun keasikan menjaring angin di jendela belakang kantor yang lumayan berdebu. hasilnya memang sedikit tidak rapi, tapi kok yo saya nyamannyaman saja dan tak sampai panik (??!!)

naah.. sudah cukup ironis?

hal ironis ini juga turut berlaku pada hobby saya dalam bacamembaca. begini, saya senang cenderung hobby membaca. novel pun komik. sangat banyak fiksi sedikit nonfiksi. lebih menyukai apabila yang dibaca berupa buku daripada koran (mengingat tampilan koran yang tumpuk menempuk, sekiranya mengerti kan kenapa saya lebih memilih buku?). nah selanjutnya, ketika buku itu berisi tulisantulisan saja yang mengalir sampai jauh dari kata ke kata, kalimat ke kalimat, bab ke bab, tanda baca yang satu ke tanda baca yang lainnya, saya bisa menyelesaikannya dengan cepat dan bisa mengambil sari dari cerita dalam buku tersebut. keteraturan dan keselarasan terkecap jelas disitu. lain halnya bila saya membaca komik, apalagi komikkomik sekarang meski tak setebal kamus inggris-indonesia, tapi menuntut penghayatan lebih *tuink*, niscaya, memakan waktu yang lama, saya harus mencocokkan gambar dan tulisan, dan jangan sampai saya melompat pada kotak tulisan yang salah, sehingga menyebabkan alur ceritanya berubah, dan saya harus membolakbalik komik kecil mungil itu dari awal lagi.

sudah mulai bisa dimengerti *sedikitsedikit* kan sekarangnya?

« Previous Page