dua hati, di ujung januari
pagi yang hujan di ujung januari. dua hati dengan keresahan yang beda menunggu sesuatu mereda. bukan hujan, karena ini bukan tentang hujan. tanpa katakata, menyeruak bisu. balutan wajah kaku tanpa barisan senyum. ada coba disitu, pun tak berbuah hasil.
“kenapa? ga lagi marahan kan?”
“nggak kok, cuman lagi ga ada soul connection nya”
“oow..”
sepi lagi, datang tanpa permisi. masih setia hujan bergulir, menyentuh telapak di akhir januari, mengiringi pagi ditemani dentingan sepeda penjaja sarapan instan yang datang bersama ramah senyuman.
“klo kamu, kenapa?”
“nggak, hanya mencoba tenang, berpindah ke jalur lambat ternyata tak mudah”
“hahaha, terima aja klo track kamu itu ga pernah lambat dari dulu. dan parahnya lagi, kamu itu pembosan. akut!”
nyanyian hujan di atap menderas, jatuhnya di telapak mulai lebih terasa. pagi yang basah, di penutup januari. ada banyak perihal. lalu lalang cerita menoreh pengertian baru. kadang sejalan, kemudian menghilang di tikungan berikutnya, ternyata hanya untuk mengantarkan bukan menemani.
“mereka kehilangan sosok, aku tau bagaimana rasanya. kita berdua tau, sangat tau pasti bagaimana rasanya, kan?”
“hmm…”
“aku ga minta banyak, hanya ingin dia tau klo aku disini, dan mengerti dia”
“hmm…”
“tapi, dia ga ngerti. ato ga tau. dia ga tau klo aku lagi ngerti dia, setidaknya mencoba mengerti, keadaannya, rasanya. dan itu, sakit”
hujan mulai menciptakan genangan, di jalanan basah, di beningnya dua mata.
satu hati terpekur, enggan mengingat lalu. ada perih di sudut hati. baginya, ketika kisah sudah menemui perjodohannya dengan titik dan satu kata tamat, maka cerita itu bukan untuknya, bukan kisahnya. akan ada cerita lain yang bisa menutup kejadiankejadian lalu dengan parameter waktu yang lebih baru, dengan dia sebagai penoreh titik dan menggoreskan kata tamat di batas halaman terakhir.
mungkin adalah ini, sebuah hati, dengan lupa yang tak merelakan, menyisipkan perih ketika waktu datang bersinggungan, meski itu hanya sedikit, bukannya lagi.
satu hati, semakin teguh. semakin meluas. dijejalkan begitu banyak air mata, menampung sejuta tawa. merotasikan letup emosi pada tempatnya. meretaskan harapanharapan dalam kedewasaannya. mengkompilasi semua itu dalam satu sosok yang bagi sekian orang terlihat terlalu tangguh sekaligus terlalu rapuh.
dan mungkin adalah ini, sekeping hati, tempat semesta menadahkan segala yang hidup di dalamnya. tempat dimana sebuah hati bisa melihat banyak, belajar banyak, memahami banyak.
pagi akhir januari yang hujan, meredalah semua yang hendak mereda. membuncahlah segala yang berdesakan, menghirup segarnya hari. sepotong pagi yang dingin, melatari lakon dua hati yang berbeda, di ujung januari. dan mungkin sisipan keyakinan baru, bahwa ini sudah merupakan awal yang baik
on January 31st, 2008 at 11:34 pm
waktu hanyalah penanda bahwa semua berproses, dan ia menciptakan momen buat dikenang
on February 1st, 2008 at 10:04 am
eh? apa yang tamat? *ga ngerti*
on February 1st, 2008 at 10:40 am
puitis sekali jeng. lg ngobrolin mas-nya ya?
eh si kangmas-mu itu si oknum HL itu toh? hihihi…aku berkunjung ke blognya dia hari ini.
on February 1st, 2008 at 12:04 pm
va, terkadang seseorang yang terlihat tangguh ternyata orang yang paling rapuh…
baca tulisanmu, jadi senyum2 sendiri…aku inget seseorang ^_^
someday-nya blom nyampe va…iya alamat imelku bener itu: samudera_ku@yahoo.com sama kayak YM-nya, hehehe…
on February 1st, 2008 at 12:53 pm
hmmm….semoga baik juga sampai akhir ya…
on February 2nd, 2008 at 4:14 pm
awal yang baik? semoga!
on February 4th, 2008 at 11:18 pm
hemmm..januari ini hujan melulu..sensasi alam yang iblis dan saya sama sukanya..