muntahan kenang

sudah saya lesapi huruf per huruf, kata per kata, kalimat per kalimat yang berloncatan keluar dari benakmu itu, dari jejakan tahun yang silam ke tahun yang kini. sampai mabuk dan sempoyonganlah saya. hingga berhamburan keluar sudah semua muntahan kenang yang tergenang, lalu terkenangkenanglah saya pada kenangan entah, yang ujungnya bukan sebuah gamang. 

kemudian, sudah saya punguti satu per satu juga nadanada itu, berawal dari andai sampai perempuan ini. berlanjut ke permintaan hati hingga jangan lupakan. lalu terantuklah saya pada kasih tak sampai dengan sesuatu yang indah pun tak pernah sama. juga pada suatu awal yang indah yang berbenturan dengan kesepian kita. semuanya mengajak saya berputarputar ke dimensi waktu kemarin, maju-mundur mundur-maju, sejenak enggan beranjak lalu tak segan melontarkan sadar kembali ke saat ini. iyah, kali ini muntahan kenang yang tergenang membuat saya terkenangkenang pada kenangan entah tanpa harus berujung gamang malah membuat saya lapang.

dan lalu, sudah saya putar kembali fragmenfragmen panjang-pendek-seadanya dalam memori yang benarbenar usang ataupun yang diusangkan. susah payah melarung asa. ah, semuanya memang ada di situ. masih di situ. situs-sejarah-peristiwa-kejadian-kenangan-lalu teronggok dalam perkamen papyrus yang bertumpukan debu. masih nyamannyaman saja berdiam diri, meski itu merupakan sudut paling tak nyaman sekalipun. menggenang di situ, minta dikenang, katanya supaya lapang.

jika, dan hanya jika, kamu bertanyatanya tentang muntahan kenang yang tergenang lalu terkenangkenang tanpa ujung gamang malah melapangkan ini. begini kasih, ini hanya satu perkara singkat, perjalanan membolakbalikan waktu dengan cara saya. tanpa sebah. tanpa gamang. tanpa tenggelam. hanya muntahan kenang yang melapangkan. hari ini dan esok, saya tetap disini, masih disini, semoga selalu disini.

ingatkah kawan kita pernah saling memimpikan?
berlari-lari 'tuk wujudkan kenyataan
lewati, segala keterasingan
lalui jalan sempit yang tak pernah bertuan

ingatkah kawan kita pernah berpeluh cacian
digerayangi dan digeliati kesepian
walaupun, sejenak nafas dari beban
'tuk lewati ruang gelap yang teramat dalam

hidup ini, hanya kepingan, yang terasing dilautan
memaksa kita, memendam kepedihan

tapi kita juga pernah duduk bermahkota
pucuk-pucuk mimpi yang berubah jadi nyata
dicumbui, harumnya putik-putik bunga
putik impian yang membawa kita lupa

hidup ini, hanya kepingan, yang terasing dilautan
memaksa kita, merubah jadi tawa

sembilanbelas*

1_reflect.jpg

sayang, bagaimana kabar mimpi? sudah di titik mana dia berujung? atau masihkah belum bertepi? daun yang menguning sudah mulai meluruh. bercumbu mesra dengan hari yang penghujan. turut pula pepohonan mencipta bayang. dan aku, masih belum menggenapkan segala rindu untukmu.

sayang, kisah ini masih di ujung harap. kenangan pun masih berebutan memenuhi ruang. masih ada begitu banyak senja kusimpan untukmu. malammalam yang telah dan akan kularungi masih mengurai janji temu denganmu di pagi yang kadang menggigil bahkan sampai bentangan siang yang seperti amarah. rindu yang belum digenapi ini tak usah kau risaukan. setangkup hati ini selalu hangat olehnya.

sayang, dua puluh purnama sudah kukemasi, untuk menemani mimpi dan jalanmu yang kelak bersua. semoga tak terlalu berlebihan. bersamanya ada sisipan doa, kuatkan jejakmu agar tak gamang dan arahnya tetap hingga tak tersesat dalam labirin waktu.

*yang tertunda

 

gambar dari sini