maret, kali ini

kaki, sudah sampai dimana kah engkau melangkah, berdasarkan pada kemantapan hati? sudah berapa besar tanah jejakanmu, adakah yang tinggal menetap, atau semua berlalu begitu saja, tersapu buih yang dibawa ombak?

kakikakiku

maret kali ini, masih seperti yang lalu, aku masih seorang penyendiri yang tak mau sepi namun begitu terbiasa sendiri. langit tak terlalu dekat. cenderung menjauh, tergantikan kelabu, konstelasi yang pada posisinya tak bisa kunikmati utuh. masih kubawa rindu yang belum tergenapi, sebagai bekal bulan selanjutnya. kuharap besok ada sisipan cahaya yang berbaik hati hendak menyapa..

aku..
hanya sinar yang melintas
sekedip
bagai kunang kunang kecil
dan engkau sayap sayap yang meranggas
seusai
sekepak kau mengudara
membawa hatiku semua…

semua yang terlambat - marcell

btw, i do not like work with microsoft powerpoint! rrrggghh.. mendingan dikasih berlembarlembar dokumen dikali dua dipangkatkan tiga *hiperbolic* untuk diketik di word *keluh*

episode kopi pahit

Komposisi Episode :

  • episode kopi pahit, batasan adalah nyata, bukan sekedar sekat tipis, bukan area abuabu, bukan silverlines. ada ego yang mencuat disitu, sebagai pondasi untuk temboktembok yang dibangun sedemikian tingginya hingga tak dapat digapai, dan saya sangat menikmati saatsaat mengurung diri di dalamnya. tenggelam di dalamnya.tanpa tersentuh. tanpa menyentuh. saya sedang membentang jarak, jangan merasa repot untuk menghadirkan tindakan penyelamatan.
  • episode kopi mocca, mari disini, ada satu dua hal yang ingin saya tunjukkan, ingin saya ceritakan, tapi dilihat saja, didengarkan saja. tak usah diapaapakan. klo telingamu tak cukup lapang, atau matamu tak cukup melihat, katakan segera. supaya kita tak terjebak dalam usaha menegakkan benang basah. siasia.
  • episode kopi susu, sekatnya menipis. batasanbatasan bisa dibuyarkan dalam sekali sentak. area abuabu, silverlines itu ada. silahkan dicerca klo memang perlu. silahkan memihak klo memang keberpihakan adalah jalan tengah. silahkan mendebat, di depan, jangan di belakang. silahkan, inilah kenyamanan berbagi yang bisa saya tawarkan. klo berminat, duduklah di samping saya, rapatrapat, tak perlu spasi.

untuk suratsurat elektronik yang tak berbalas
untuk pesanpesan singkat yang juga tak berbalas
untuk kunjungankunjungan yang masih saja tak berbalas
untuk panggilan yang tak terjawab
dan mungkin untuk tanggapantanggapan yang tak menyenangkan

.saya lagi kambuh.

hanya satu itu saja yang bisa saya rekareka sebagai alasan untuk menjelaskan keadaan beberapa waktu belakangan ini. hanya itu penjelasan terbaik yang saya miliki. tak keberatan kan?

itu tentang kemarin.

hari ini, sudah saya seduh segelas kopi mocca yang tetap berasa kopinya dan sangat harum aromanya, untuk menemani mendung yang menutupi jingga, menemani matahari mengecup laut, menemani sore saya. dan untuk bercerita, masih tentang kemarin.

kemarin itu, episode kopi pahit.

sekali waktu, saya begitu yakin akan bisa. yang patut disayangkan adalah, ketika keyakinan bisa itu tak diikuti dengan usaha nyata, maka muncullah suatu sekali waktu yang lain, dimana saya tak lagi memiliki keyakinan bisa itu. dengan kata lain, saya menyerah, tanpa syarat, mundur teratur, tanpa melakukan apaapa, dengan membawa keyakinan baru bahwa saya tak akan bisa. maka sudah dipastikan kalah lah diri ini, bukan begitu?

berharihari, melihat semuanya berputar, tanpa saya turut di dalamnya. saya cuman tergilas di dalamnya. lebur yang tak saya inginkan. pagi yang selalu terlalu cepat digantikan oleh terik, atau sore yang sama cepatnya tergantikan oleh malam. hujan yang serupa garis benang atau butiranbutiran air. langit yang birunya sangat lembut hingga membumbung angan, ditemani awanawan putih nan empuk. lewat begitu saja. tanpa sempat dinikmati. rutinitas kah namanya ketika semuanya selalu seperti ituitu saja, dengan perasaan yang ituitu saja pula? yah, sepertinya itu sebutannya. letupan, adalah satusatunya yang saya ingini. masih adakah?

lalu, ada halhal yang berwujud karena keterpaksaan. itu menyesakkan, dan terasa begitu sangat menyebalkan. kemudian, di ujung suatu tempat, ternyata ada khianat waktu atas kenangan. atau khianat saya atas waktu? atau kenangan dan waktu bersinergi untuk mengkhianati saya? atau saya yang berbalik mengkhianati keduanya? apalah namanya, terserah. saya capek.

pada akhirnya, entah bagaimana, saya lalu mempercayakan hidup ini pada langkah kaki. kemanapun dan dimanapun dia berpijak, maka saya yakin, disitulah seharusnya saya ada. meski kadang, saya masih saja menyuarakan satu dua kata, 'kenapa' dan 'mengapa', yang diikuti dengan beberapa tanda tanya, tergantung seberapa besar kadar penerimaan saya. atau kadang, saya merasa terlalu dibuatkan begitu banyak patahan rencana. hidup, dengan caranya, yang kemudian saya asumsikan sebagai suatu bentuk kesengajaan, meletakkan begitu banyak belokan dalam titian jalan yang sedang atau akan saya lalui.

fiuuhh..

sudah. cukupkan dulu kopi pahit itu. saya ingin nge-teh sesudah ini, sambil membaca lembarlembar cerita yang menuai air mata, dan mengundang gelegak emosi, yang tak kuasa saya sudahi.

uneguneg

ugh, saya paling tidak suka ketika :

atasan kecil saya yang sepertinya memang pelupa dan hanya selalu sibuk dengan apa yang bisa dikatakan sebagai kepentingan pribadinya, mengatakan pada dunia (ha!) bahwasanya dia SUDAH mengatakan apa yang harus saya lakukan ataupun sediakan berkaitan dengan suatu pekerjaan yang mendadak dan memerlukan tingkat kepanikan yang cukup tinggi. padahal, sebenarbenarnya dan sesungguhsungguhnya, dia TIDAK PERNAH mengatakan sepatah kata apa pun kepada saya.

misalnya :

seperti pada suatu hari ketika keesokan harinya orangorang yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut sudah akan muncul di hadapan hidung saya di kantor :

“va, sediain iniini ituitu blablabla yaddayadda dungdungdung preketek kampret, soalnya besok orangorang dari kantor anu mo datang”

dan ketika orangorang dari kantor anu itu muncul tapi pekerjaan yang bersangkutan belum beresberes juga, maka si atasan kecil akan dengan entengnya mengatakan :

“maaf yah bapakbapak ibuibu, padahal udah saya bilang sama eva supaya nyediain iniini ituitu blablabla yaddayadada dungdung preketek kampret sejak saya pulang dari kantor bapakbapak dan ibuibu sekalian, tapi belum beres juga, mungkin si eva nya lupa, hahahaha”

di hadapan saya, yang kemudian disambut tawa maklum dari bapakbapak ibuibu dari kantor anu itu.

BLAAAHHHHHHH!!!!!

atau :

seperti pada suatu ketika, akan diadakan rapat dan orangorang belum terkumpul semuanya (baca : ruangan rapat masih lengang), sedangkan atasan besar sudah duduk manis di depan ruang rapat, dan atasan kecil saya yang notabene tidak pernah mengatakan apapun kepada saya bersuara seperti ini :

“tadi kan saya udah bilang ke eva klo rapat akan diadakan jam segini, eva udah bilang belum ke temanteman yang lain?”

BLAAAAAAAAHHHHHH!

dengan kalimat singkat, saya benci sekali ketika atasan kecil saya itu sudah mulai mengkambinghitamkan saya atau siapa saja yang kebetulan apes atas kealpaan dirinya.

tapi top of all, yang paling saya tidak sukai sebenarnya adalah saya, yang hanya diam saja dengan perlakuan seperti itu. saya muak, dan sudah berada di titik tak tahu dimana, masuk telinga kiri keluar telinga kanan mungkin, disertai rasa malas tau dan malas mengerti atas kejadiankejadian seperti itu. lebih banyak BLAH! lagi buat saya klo begitu *sigh*

saya juga tak suka, kepada orangorang yang tak bisa antri. di atm, di kasir sebuah pasar swalayan, di toilet umum, di bank, di warnet, ataupun dimana saja yang kondisinya mengharuskan seseorang itu untuk standing on queue. terkutuklah kalian yang tidak bisa antri, apapun alasan kalian. apapun kepentingan kalian, sesiapapun kalian, yang bertindak seperti memiliki sepotong perasaan BERHAK dan segunung sikap BEBAL untuk menyerobot antrian dan tidak mempedulikan orangorang yang lain yang kemungkinan sangat besar sudah berada lebih lama di lokasi yang bersangkutan dan juga mungkin punya kepentingan lebih besar tapi diseimbangi dengan kesadaran diri yang sama besarnya juga sehingga tetap rela untuk antri.

dan lagi, saya tak suka, kepada saya yang hanya selalu melemparkan senyum permakluman dan serentetan umpatan dalam hati yang tak akan pernah diketahui ataupun didengar para bebal-sok-penting penyerobot antrian *sigh*

saya tak suka ketika akhirnya saya hanya berakhir di pojokan sebuah warnet, sambil mendengarkan walkman dengan lagulagu favorit saya dan kemudian hanya menuliskan sebagian kecil halhal yang tak saya sukai ini sebagai sebuah uneguneg dalam sebuah jagad maya.
itu, saya tak suka.

lalu, jika ada yang mengatakan

“santai aja kali va, nda cuman kamu yang ga suka dengan halhal begituan, ada banyak orang di negeri tercinta ini yang sudah eneg dengan halhal seperti itu. tapi sekian banyak orang itu tak meributkannya, karena memang masih ada lebih banyak hal penting yang harus diributkan, seperti korupsinya seorang jenderal yang sudah diwariskan kepada anakanaknya lantaran sang jenderal sudah berpulang, atau wisata lumpur di ujung timur pulau jawa yang sudah menggantungkan nasib sekian ribu (atau juta?) jiwa di daerah itu”

itu juga, saya tak suka.

bukannya saya meremehtemehkan perihalperihal besar itu. tapi menurut saya, begitu banyak perihal kecil yang lantaran kalimatkalimat seperti di atas akhirnya menumpuk dan menjadi perihal besar yang tak tertangani lagi.

terus?

yah ga terusterusan, namanya juga uneguneg. daripada jadi kotoran di kepala. dan iyah, tentu saja saya tak mengharap atau lebih tepatnya tak bisa berharap, bahwa apa yang saya tuliskan ini bisa membawa perubahan kecil pada halhal yang tak saya sukai itu.

nah, ini bagian yang paling saya tak suka, saya yang begitu maklum dan memiliki segudang alasan untuk membenarkan atas apa yang saya lakukan dan pikirkan, meskipun nyatanyata sebuah perbuatan yang bisa dilabeli sebagai jalur aman.

daripada jadi kotoran di kepala, mendingan mendingin.

lebih 11 kata

saya rasa itu sungguh sudah lebih daripada cukup.

sekedar ego, sesaat, untuk bisa membuktikan bahwa saya bisa lebih. pada percobaan pertama, tidak sampai enam puluh, percobaan kedua cuman bisa melebihi empat dari enam puluh. begitu pula dengan percobaan ketiga, keempat, kelima dan seterusnya, sampai saya malas menghitung sudah berapa kali saya mencoba dengan kelebihan yang tak bergeser dari empat. biar saya gambarkan bagaimana sekiranya rasa malas untuk mencoba yang saya maksud : loading.... loading... loading...uhm, tak bisa. tak bisa saya gambarkan. jadi kirakira sudah bisa dipahami rasa malas yang saya maksudkan? masih tidak juga? klo begitu, saya sarankan kalian mencobanya sendiri 😀

dititik malas, saya pikir saya harus mengambil garis jeda. untuk melihat batas, menyudahi dan kemudian puas atas kelebihan empat dari parameter enam puluh; atau lagi, memupuk yakin, bahwa saat saya bisa melebihi empat dari parameter enam puluh, semestinya saya bisa lebih lagi. sungguh manusiawi, tak? *wink*

dan lalu, mulai mencoba lagi.

saya sempat berpuas pada kelebihan yang ke tujuh. empat berubah tujuh, bukankah itu penambahan yang meyakinkan? maka sepantasnyalah rasa penasaran dan 'peng-aku-an' yang sepertinya sedang berada dalam kadar berlebih mengalahkan rasa puas yang sudah saya kecapi. dan tentu saja ketika tujuh bergulir ke sembilan dalam dua atau tiga kali percobaan, dua angka tambahan itu berhasil mengorekngorek ego sesaat saya dengan begitu sempurnanya, meyakinkan kembali bahwa saya bisa lebih.

dan kemudian, saya mencoba lagi. entah percobaan yang keberapa. yang saya tau itu sudah percobaan yang ke puluhan.

tanpa garis jeda untuk melihat batas pun meyakinkan saya. hanya terus mencoba. satu
yang sempat terlintas, obsesi dan kebisaan ternyata memiliki sekat yang terlalu tipis untuk dipahami : kesadaran diri untuk bersyukur, yang biasanya terdorong keras sampai hilang di tepian jurang oleh ego dan peng-aku-an. dan dalam kasus saya saat ini, sadar diri lagi jatuh di palung terdalam bukan hilang, hanya tertutup kabut 😉

dan akhirnya sampai juga pada kelebihan sebelas kata daripada parameter enam puluh putaran detik yang berdetak. saya mencukupinya. menyudahinya. mengucapkan kata selesai. mengamininya. sebelas kata yang berlebih, sudah lebih daripada cukup. bagi saya, tak tau bagi kalian. untuk saya, keyakinan saya yang hampir saja berubah menjadi sebuah obsesi konyol sudah terbukti. entah pembuktian atas apa. hanya ingin membuktikan saja.

btw, jangan terlalu serius, postingan ini tentang ini, yang saya dapatkan dari sini.

ini dia piguranya, untuk dikenang 😛 *tuink*

71 words

Speedtest

selamat mencoba! 🙂

memotret hujan

hujanhujan

aku datang, melihatmu yang kembali
melodimu yang begitu anggun
menjeratku berkali-kali
di tepian kaca yang berembun

memandangmu menari syahdu
membuncahkan rinduku
hingga tak berterali
kubiarkan lepas berlari

decak kagum tidak membuatmu jumawa
kamu pekat yang indah dengan irama
sangat lekat terpejam mata
sungguh takjub ku padaNya

*sebuah repost, teruntuk hujan yang masih saja meluruh di kota ini, setelah khianatnya pada dua purnama yang telah berlalu. membawa sejuk sampai gemeletuk gigilan. ada tawatawa yang membuat hangat, ada wajahwajah masam atas terhalangnya rencana. dan tentu saja, tetap ada saya disitu, menikmati sambil mengagumi 🙂

*gambar dari sini