sounds good, eh?
aku yakin semua akan menjadi baik, kenapa? karena aku lebih senang bersikap optimis dan bodoh, daripada pesimis dan benar.quote of the day, dari film jadul ini.
cuaca yang awutawutan dan masih saja semaunya. senang juga dengan tempo yang dibawanya, tak terburuburu, tanpa memburu, tanpa diburu. langit malam yang kadang jernih, kadang bergemuruh. langit pagi yang selalu biru jernih dan terik. bersambung dengan sore, saat awanawan kelabu dan tebal menyambangi pepohonan di gemunung yang terlihat gagah, yang kadang datang bersama riuh renyah ketukan di atap, atau sekedar garisgaris kecil di jendela angkot sebagai teman melepas hari dalam perjalanan pulang dari kantor.
pertama, ada saya di hari ketiga, menjejak hitungan yang ke dua puluh empat. baru sekian tahun, turut serta melempar dadu ke semesta, bermain di dalam absolutisme mutlakNya, melakukan tawarmenawar terhadap iniitu. masih terus mencoba memahami pembelajaran, merumuskan arti, yang sepertinya semakin dirumuskan semakin tak terumus. atau saya yang bodoh? tapi, merumuskan bukan berarti harus mencapai hasil akhirnya sebagai suatu jawaban dengan harga pas kan? *wink*
menoreh disanasini, berputarputar kesanakemari. mengalami berbagai tumbukan dengan sesuatu yang bernama kenyataan. mengisi semua yang belum terisi, berlembarlembar, sampai perlu ganti buku klo belum menemukan kata tamat. cerita zaman, kata mbak dew. daripada hanya duduk diam dan menunggu, kata saya.
saya bukan peziarah syahdu dalam setiap pengulangan tahun. bukan juga seorang hedon yang mewajibkan hirukpikuk pestapora. halhal sederhana saja dengan kedalaman arti, kata kedua orang tua saya. maka jadilah, tahuntahun sebelumnya dan tahun ke dua puluh empat ini, ada harapan saya, jangan usaikan mimpi, agar saya bisa terus bergerak. semoga semua lancarlancar sajah! *amin* dan harapan orangorang tercinta saya, semoga menjadi semakin lebih baik! *amin*
kedua, ada tahun ketiga, pada hari yang ke lima. saya, seorang pekerja tanpa karya, yang berkalikali didatangi keinginan untuk mengayuh lagi, akhirnya mencapai tahun ketiga nya berlabuh : berbakti (?), merantau, berbagi. itu yang saya pelajari. semuanya masih sama disini. masih saja, pagi yang dilematis. siang di pojokan sunyi tanpa peduli dan tak mau dipedulikan. sore hingga malam, bergelut dengan jaringan yang seadanya.
itu cerita kantor.
lain lagi cerita kota, disini, saya belajar melihat langit dari balik rimbunnya pohon. teduh. sejuk. menyenangkan, menenangkan pepohonan di jalan satu arah, tempat toko buku pertama di kota ini, dan jejeran bankbank, yang membuat saya betah berlamalama sendiri, tak setiap hari, demi mencegah sesuatu yang berjudul rutinitas, berjalan dari satu pohon ke pohon berikutnya, menikmati langit sore yang tak jingga, sampai gerobakgerobak penjual martabak mulai buka warung menjelang maghrib. bulan lalu, ada satu pohon ditebang, entah atas nama apa. akarnya masih setia menghujam ke tanah, ditemani serbukserbuknya yang tertinggal di tepian jalan. basah, teronggok begitu saja. siapa yang masih peduli?
kemudian, pada beberapa pohon duwet di halaman kantor, buah tanpa musim, selalu ada, berganti warna tanpa perlu menunggu lama. menyeraki halaman kantor dengan daundaun kuningnya, dan buahbuah yang sudah lewat masanya. meski tak ada yang menyambangi, tetap menggenapi siklusnya. pada tahun pertama, sekalikali, saya datang meminta buahnya, yang selalu manismanissepet itu, yang menyisakan getahnya di pinggiran mulut hingga membuat lidah menjadi kehitamhitaman itu, dia tak pernah berubah rasa. lalu saya mempertanyakan setianya,
“apakah setiamu akan berakhir hanya ketika ditumbangkan? tak ada khianat seperti musim? atau seperti pohon mangga di rumah yang tibatiba mogok berbuah? atau seperti juga pohon rambutan di rumah yang buahnya berhenti menjadi ranum melainkan hambar?”
dia menjawabnya sebulan kemudian, tetap setialah dia menggenapi siklusnya : berbuah, berganti warna, membusuk. dan lagi, dan lagi. selalu begitu, seperti itu. bulanbulan berikutnya, selama tiga tahun saya disini, tak peduli klo tak dipedulikan, tanpa berubah rasa. totalitas. mungkin seperti itu janjinya pada Semesta, atau yang tersuratkan padanya. tak akan pernah tergoyahkan.
ah, begitulah.
semesta bukanlah tempat yang irasional, acak dan kacau, kan? klo pun semesta menjadi irasional, acak dan kacau, itu karena ada saya, kamu, dia, mereka, kita semua, yang sedang sibuk melempar dadu, kan?
.april.
“ini bulan gw!!” kata gita.
maka berarti, ini bulan saya juga
klo begitu, selamat menikmati bulan ini!
on April 9th, 2008 at 9:36 am
ulang taun juga, seperti si aprikot? oowww ya yaaa…baru tau
ucapan happy birthdaynya sekarang atau kapan nih, harusnya?
on April 9th, 2008 at 11:10 am
ntar klo pohon juwetnya berbuah lagi, minta dikirimin donk 1 kilo ajah, udah lama banget nih ga ketemu buah itu, hehehehehe…..
namany duwet or juwet sih?
on April 9th, 2008 at 5:33 pm
Dalem nih postingannya… sampe harus gulung celana (banjir kalee ^_^)
on April 10th, 2008 at 6:27 pm
her her…
yang betul juwet…
juweta sanjaya…
kelakuan si kucing garong…garong…
ndak sopan nyanyi di tempat orang
on May 21st, 2008 at 2:22 pm
juwet?
sejenis kerupuk kah?
-emg ada pohon kerupuk?-