biarkan tubuh mengalami. biarkan hasrat menghendaki. dan biarkan kecemasan memetakan. sebab itu saja yang jelas kupunya : warnawarni!
menabuh warnarasa dalam reriungan warnakata
lesapan angin, tabuhan rinai hujan, terik mentari, lelehan kabut : ingin duduk diam menikmati, dengan satu pinta sederhana : menjamah kesederhanaan itu sendiri, tanpa janjijanji.
satu kesederhanaan, untuk melengkapi semuanya.
ode, kepada sahabat
mendung. penghujung minggu. di ujung hari.
awanawan :
mengecup puncak gunung.
menggumuli pucuk pinus.
berbuah halimun.
abuabu.
putih.
melayang.
mengapung.
: kelabu
air yang memberati awan, enggan membasahi tanah : tidak untuk menggenapi siklus. belum saatnya, elaknya.
dua pekan sudah berlalu, sejak diam jatuh sebagai pilihan. rindu, meski tetap tak cukup kuat sebagai alasan untuk kembali. belum saatnya, elakku.
telinga, belum siap mendengar.
mata, belum ingin melihat.
jemari, masih mengatup, tak ingin merentang benang merah.
hati, menjura, mendamba : dimanja, diraba
jauh, jauh : ego membumbung.
terlepas dari badan : menyentuh awangawang.
belum menemukan jalan : untuk berpulang.
menunggu kah kalian disitu? setelah terik yang mematah asa. sesudah hari hujan yang membawa oase. di reriungan senja :
tempat menabuh warna pelangi.
tempat menjemput malam.
tempat memetik bintang.
tempat melesap semburat warna pagi.
yang dihiasi candu memabukkan, hangat tawatawa, linangan tangis, gelegak amarah.
: rendevouz.
masih menunggu kah kalian disitu?
senja disini, sedang memerah. kuisi dengan titiktitik doa beserta segala pinta
: tunggu aku disitu!
9 Responses to “ode, kepada sahabat”
Leave a Reply
mungkin sederhana itu sebatas sekat tipis, garis imajinasi yang memang membaurkan segala untuk tak menjadi sederhana.
mungkin…
hemmmm ganti kulit tho? makin berwarna aja…
wah tamplatenya bagus.. terkesan selalu ceria..
btw salam kenal ya..
kutunggu di Jakarta Jeng ^_^
jangan lupa bawa onde-onde ya (baca ode jadi pengen maem onde-onde, hiks…)
ehm… kangen dirimuh…
banyak yang ingin dibagi tapi tak mampu kubagi…
wah mau ke jakarta ya? va’e oleh olehnya jangan lupa dilempar kalo sudah diatas langit surabaya ya…
templatenya gelap… terbawa suasana palu yang sering mati listrik ya va?
hehehehe
kok jadi hitam?
ke jakarta? sekolah lagi? ato apa?
saya ke jakartanya januari 2009. insyaalloh
aku membaca kesedihan. apa salah baca, ya?
Itu, ode untuk akuwh? *ge’er* wkwkwkwkwk…