dan aku, mengerti..
suatu ketika, saya seorang pelari ulung dari keadaankeadaan kacau yang saya ciptakan sendiri. dengan caracara yang tidak bisa disebut baik, tentunya. pengecut kata orangorang, yang kadang saya bantah, meski tak saya pungkiri pada setiap perjalanan memetik bintang di kala malam. saya, selalu memiliki alasanalasan dan pembenaran atas tindakantindakan ’melarikan diri’ yang dilakukan. a to z. lengkap dengan sepaket ego : aku aku aku aku aku aku aku aku, hanya aku.
maka, ketika akhirnya memaafkan ini ternyata meringankan, saya bersyukur.
sudah cukuplah saya memanjakan prasangka yang menggerogoti hati sekian lama. iyah, sekian lama. tanpa kalimatkalimat pernyataan, tanpa katakata yang mengamini. sekian lama. cukup lama untuk menghabisi saya dari dalam tanpa sisasisa berarti : kerdil, picik, tidak dewasa.
waktu itu memusar. dengan daya magisnya yang seperti memanggilmanggil saya untuk menghadapi halhal yang saya anggap lelucon dan hanya ada dalam ceritacerita fiksi sebuah novel. sekonyolkonyolnya lelucon dalam cerita fiksi, tetap saja lelucon dengan personal touch dan campur tangan Tuhan, adalah yang terbaik, begitu bukan?
dan lalu terjadilah..
saya memaafkan, sebuah lalu yang memberi sepotong torehan dalam kepada kiniku, yang saya yakini tak akan pernah tersentuh oleh saya, meski saya memiliki pengertian, meski bersamanya saya punyai kesabaran, dan dengannya kasih sayang seperti tumpah ruah dan membuat penuh.
lebihlebih, saya memaafkan saya, sekelebat diri saya, yang telah dituntun ketidaksukaan untuk berkubang dalam amarah tak terarah, tanpa titik pangkal, yang dengan jelas akan kesulitan menemukan ujungnya; kepada sebuah lalu, yang telah memiliki kini, yang sama berwarnanya, dengan coraknya sendiri, yang membentuk keindahannya sendiri.
memaafkan, tanpa melontarkan kalimatkalimat permintaan maaf atau pernyataan memaafkan :
”maafkan aku”
dan
”aku memaafkan kamu”
hadir begitu saja, dari sebuah senyum yang dipancarkan mata yang terulas dalam tarikan bibir yang memamerkan sederetan geligi yang rapi. satu detik, yang begitu hangatnya hingga meluluhlantakan amarah saya, dan menyapu kabut yang menyelubungi kepala saya, seperti ketika harry potter berhasil menciptakan patronousnya untuk mengusir dementor yang hendak melakukan kecupan maut.
satusatunya detik dalam hidup saya yang tak ingin saya ulangi, tapi hanya ingin saya kenang, sebagai suatu pembebasan, atas sebuah rasa yang disebut cinta.
satu episode yang [ternyata] bisa saya tamatkan dengan baik. maka izinkanlah saya menuliskan ini..
”and they live happily, ever after”
ku tahu tempat yang kutuju
semua cerita bertemu
berganti nyanyian pagi
sejukkan hati, bekukan waktusemua yang kucari
berganti nyanyian pagi
tangisan dan tawanya
sejukkan hati, bekukan waktudisini kuberdiri
disini kuhadapi
tak ingin semua berlalu
pancaran tak berujungpergi menjaring bintang
samarkan suara
lelap dalam mimpi indah
dan aku mengertiPAGI - Pure Saturday
on July 21st, 2008 at 6:57 am
jadi udah saling baikan sama yang lalu itu?
*sambilpura2mengaisngaissampahdidepaneva*
wkwkwkwkwkwkw
on July 21st, 2008 at 10:17 am
rasanya damai, ya
kebahagiaan itu kan memang bukan hanya bisa dirasakan dengan senyum di bibir dan tawa lepas, tapi juga dengan damai di hati dan setitik air mata haru 
on July 21st, 2008 at 12:55 pm
jeng eva, aku terharu ;_;
selamat ya jeng…
on July 21st, 2008 at 1:26 pm
memaafkan. susah, kadang rasanya ga mungkin kalo luka yang tertoreh terlalu dalam. cieee tertoreeehhhh….:D
on July 23rd, 2008 at 9:00 am
wahh.. selamat.. dirimuh sudah mencapai tahap itu sebelum dirikuh.. di diriku masih tersisa sepotong-sepotong… sedang diusahakan untuk dituntaskan
doakan dirikuh semoga bisa “menyusul”. aku juga ingin merasakan keindahan dan kedamaiannya.
dirikuh…
sedang mencoba meraihnya
sadar or gak sadar…. diakui or gak diakui… dirimuh salah satunya yang memberi kekuatan itu padaku.
thank you so much..
i love you, mumz…
on July 23rd, 2008 at 5:15 pm
…
gataw mau komen apa. tapi semoga dengan maaf itu semua akan jadi jauh lebih baik.
on July 23rd, 2008 at 11:34 pm
forgive and forget,
yang saya pernah pelajari
yang paling berat tentang melupakan,
bukanlah tentang melupakan hal yang dimaafkan,
tapi justru melupakan kalau kita sudah memaafkan, dan memulai kembali dari saldo awal.
tentunya dengan embel-embel, easier said than done.
ditambahin lagi dengan pernyataan: coz we’re only human, after all.
lah, ini saya lagi ngomongin maaf apa hutang sih? hahahaha mbuh.
sampai jumpa bow.
on July 24th, 2008 at 12:05 am
pak iq, kira kira kalo memaafkan nyatetnya di lajur Dr apa Cr? -halah-
va, kira kira kalo ada mesin tabulasi permaafan sama perlupakan enak ya va?
bisa tau dalam setahun berapa kali kita dimaafkan dan memaafkan
trus bisa tau seberapa banyak melupakan dan terlupakan. kalo bisa sekalian ada search engine nya. kek di masterfile nasional gitu. tinggal masukin nomer pokok permaafan dan perlupakan. trus di klik.
voila!! ketauan langsung… sekian kali memaafkan si A, sekian kali dimaafkan si A.
eh tapi jadinya ntar malah nggak tulus ya…. hehehehe
sama ini va… kalkulator dosa….
hahahahahak…
on July 25th, 2008 at 12:04 pm
ribet fri, masak pake ada kalkulator dosa, ntar jadinya ngitung dosa muluw, mending klo aku sih skalian aja shredder dosa, jd tiap bikin dosa langsung pake alat itu, ilang deh tanpa jejak, hmm..kira2 doraemon punya ga yah?
on July 25th, 2008 at 6:03 pm
cuman mampir….
hihihi…
saya harus segera cabut, ciwidey dah nunggu….
daghhh….
on August 13th, 2008 at 6:58 pm
mirip dengan pernyataan afrij.
*sambilngupildanakhirnyaditempeldibawahmeja*