sebuah pagi

suatu ketika, aku mencoba menangkap basah matahari yang mengendap-endap, merangkak menggapai tingginya langit. terlihat ia malumalu, atau mungkin masih malas, menyapa kota nan angkuh ini.
semakin merapat ku ke tepian, pada tingkat tertinggi sebuah gedung, mencoba memberi sapaan kepadanya, “ada yang sedang menantimu, bergegaslah, tak perlu mengendap-endap. derapmu selalu membuat hangat hari. buatlah pagi ini menyenangkan!”
dengan enggan, dia mulai bergulir, meniti satusatu anak tangganya sambil lirih berbisik, “untuk apa bergegas? lajuku seperti putaran roda yang berkarat, dengan bunyi yang memekakkan telinga. toh, mereka tak butuh aku untuk menandai hari yang berganti. aku ini sudah terlalu tua, dan kota ini begitu ingin mengambil peranku. maka biarkanlah mereka mendapatkannya!”
lalu, pagi ku pun pecah terbelah, oleh derap langkah yang tergesa, deru mesin serta serentetan bunyi nyaring parade klakson. dan aku akhirnya mengerti, mengapa disini nyanyi burung dengan kicaunya yang riang tak lagi dibutuhkan untuk melengkapi pagi.
*sebuah pagi, di ibukota negara.
on September 26th, 2008 at 8:36 am
wah….bagusnya
terbangun bukan lagi karena adanya sorotan mentari yang menyusup melalui jendela kamar, tapi karena rentetan bunyi alarm, dan ketergesa-gesaan itu pun dimulai, ritme yang melelahkan
btw, selamat pagiiiiii……….semangaaaaaaaaaattt…(meski tak sempat sahur)
libur telah tiba-libur telah tiba, hore-hore-hore
on September 26th, 2008 at 8:51 am
yah, g pertamax *manyun*
bagus jeng gambarnya..
cantik sekali….
selamat mudik semuanya!!
on September 26th, 2008 at 10:16 am
Bangun pagi? Tumbyeeennn… ;p
on September 26th, 2008 at 10:28 am
beautiful morning
ah, pagi yang sibuk di batavia.
entah mengapa, ingin menyapa kota ini dengan nama itu…
on September 26th, 2008 at 12:35 pm
ah… eva….
*termehek mehek mode on*
on September 26th, 2008 at 12:38 pm
waaah, gambarnya bagus…
aku nulisnya udah siang, jadi selamat siang jeng
kantor udah mulai sepi.