October 28th, 2008

episode sayur pare*

warna rasakata eva in categorized

jam 12 lebih.

saatnya makan siang. dia keluar sebentar dari ruang kerjanya yang sempit dan menyesakkan itu. berjalan menuju warung nasi di tenda tepian rel kereta api.

setiba disitu, memilih menu makan siangnya :
nasi
kepala ayam
dan tahu

sayuran yang tersedia hanya sayur pare.

“sayurnya pahit gak bu?”
“ga begitu pahit”
“mau deh dikit”

kemudian disahut dengan suara salah satu pengunjung warung,

“sekarang pahit, nanti juga manis, Neng. perlawanan kata. hidup juga seperti itu.”

perempuan itu tersenyum, menganggukkan kepala, dan mengamini perkataan seorang bapak yang tak dikenalnya itu.

setelah membayar, dia kembali ke ruangan kerjanya yang masih sempit, tapi tak terasa menyesakkan lagi.

P.S episode sayur pare*, sebuah pesan singkat ketika makan siang dari ibu ini. thank you, atas izin untuk memposting ini ;) i owe you one!

P.P.S ah senangnya, dalam sehari saya memperoleh segini banyak perihal, membuat saya merasa kaya dengan keberadaan orangorang seperti kalian di sekitar saya, alhamdulillah :)

October 28th, 2008

rasa kecoak*

warna rasakata eva in categorized, sendaljepiter's

tadi pagi, ketika saya online via hape, dan mendapati postingan baru berjumlah lima tulisan dari mbak yu ini, ada satu tulisan yang nyangkut, tentang cara membuat komposisi makanan yang berujung pada penganalogian tentang hidup;

dan,

kalo saya, saat mengkonsumsi makanan berkuah, seperti bakso atau soto ayam, atau apapun, selalu saja rasanya ga pernah plain atau polos. saya mesti selalu meraciknya kembali :

ditambahi saos tomat (banyakbanyak)
ditambahi kecap (banyakbanyak)
ditambahi cabe yang sudah diulek (banyakbanyak)
ditambahi garam (sedikitbanyak)
dan terakhir, perasan jeruk nipis (lumayanbanyak)

dan lalu,

ketika semuanya sudah berlebihan dan menghasilkan rasa kecoak *kata kakak saya, bukan kata saya, maka sekali lagi saya menambahkan kecap sebagai penyempurna komposisi rasa makanan itu. biar lebih berasa manisnya, daripada rasarasa yang lain, kilah saya ketika kakak menyoal rasa makanan itu.

dan kemudian,

kalo saya cobacoba ikudikudan menganalogikan cara menakar komposisi untuk makanan itu ke sesuatu yang berskala lebih besar lagi, yaitu HIDUP, maka sebagai kesimpulannya, bisa dikatakan, saya ini drama queen yang mendamba happy ending, yak? *d’oh*

dan kini,

bagaimana dengan takaran komposisi kalian? apakah kirakira akan berujung pada kesimpulan yang sama? -sambil harapharap cemas mencari rekan kerja sebagai drama queen ataupun drama king yang mendamba setitik happy ending- :lol:

note : betewe, betewe, out of topic, memangnya rasa kecoak gimana toh? mungkin saya mesti menanyakannya kepada Bapak Sumanto? atau kepada pemeran Sumanto saja, kan cukup mewakili, soalnya menurut artikel entah dimana saat scene antara Sumanto dan Kecoa, si artis memakan kecoa beneran, no tricks! itu lho, artis yang itu, yang dulu turut berperan di 9 Naga, dan sekarang jadi model video klip Hitamku-nya Andra and The Backbone, he’s so cool, keren, cakep, pokoknya gitu deh, saya suka! :oops: *halah*

October 28th, 2008

peluk

warna rasakata eva in categorized

dia. va, klo kamu lagi butuh pelukan, larinya ke sapa?

saya. ke boneka besar, pemberian si bapak :oops:

dia. berbahagialah orang yang memiliki boneka besar untuk dipeluk, dan sudah merasa cukup karenanya.

saya. klo rasanya masih kurang, yah minta ke kakak, itupun klo autisnya lagi nggak kambuh :oops:

dia. klo aku, cuman punya satu tempat meminta peluk, sejak dulu. dan seterusnya dan seterusnya *cencored* :D

hmm, kalo kalian, saat butuh pelukan, minta nya ke sapa?

rasakan semua, demikian pinta sang hati.

amarah atau asmara,
kasih atau pedih,
segalanya indah,
jika memang tepat pada waktunya.

dan inilah hatiku,
pada dini hari yang hening.
bening.
apa adanya.

-sepenggal fiksi Peluk ~ Rectoverso

Next Page »