episode sayur pare*
jam 12 lebih.
saatnya makan siang. dia keluar sebentar dari ruang kerjanya yang sempit dan menyesakkan itu. berjalan menuju warung nasi di tenda tepian rel kereta api.
setiba disitu, memilih menu makan siangnya :
nasi
kepala ayam
dan tahu
sayuran yang tersedia hanya sayur pare.
“sayurnya pahit gak bu?”
“ga begitu pahit”
“mau deh dikit”
kemudian disahut dengan suara salah satu pengunjung warung,
“sekarang pahit, nanti juga manis, Neng. perlawanan kata. hidup juga seperti itu.”
perempuan itu tersenyum, menganggukkan kepala, dan mengamini perkataan seorang bapak yang tak dikenalnya itu.
setelah membayar, dia kembali ke ruangan kerjanya yang masih sempit, tapi tak terasa menyesakkan lagi.
P.S episode sayur pare*, sebuah pesan singkat ketika makan siang dari ibu ini. thank you, atas izin untuk memposting ini
i owe you one!
P.P.S ah senangnya, dalam sehari saya memperoleh segini banyak perihal, membuat saya merasa kaya dengan keberadaan orangorang seperti kalian di sekitar saya, alhamdulillah
on October 29th, 2008 at 9:24 am
aduh, tertohok diriku.
bitter sweet simphony kalo kata the Verve
on October 29th, 2008 at 11:38 am
namanya sayur pare ya pahit donk va..
apa kabarnya….? baik baik saja kan ?
on October 29th, 2008 at 6:12 pm
aaaaah… eva… benar…
episode sayur pare…
kenapa saya bisa merasakannya…
apa lagi ya selain episode sayur pare?
hmmm…
on October 30th, 2008 at 12:11 pm
hmm..
episode sayur pare
-boleh deh dikit-
tapi teteup
andai boleh memilih,
kayaknya enakan episode tahu tempe
ato episode tumis kangkung plus ayam bakar
slurp -halah-
on October 30th, 2008 at 4:17 pm
gitu ya va..
daripada pare pait, mending puasa aja deh.
nanti buka puasa tetep pare yang ada, pasti nikmatnya lebih terasa
on November 4th, 2008 at 12:15 am
“sekarang pahit, nanti juga manis, Neng. perlawanan kata. hidup juga seperti itu.”
ah, petuah of the day..
on November 4th, 2008 at 6:22 pm
bener tuchhhhhhhhhhhhhh