mendobrak kebiasaan
hah, judulnya dramatis sekali.
jadi begini, saya baru selesai dipijat. pijat tradisional. sepanjang sejarah hidup saya sebagai manusia dewasa, saya blom pernah dipijat, sekalipun.
kali terakhir saya mengadakan kontak dengan urusan pijat memijat itu adalah ketika saya dan kambing lagi agak tidak kompak. waktu itu saya lagi soksok-an jadi gembala kambing bersama saudara sepupusepupu lakilaki saya
ketika salah satu kambing lepas dari ikatannya di pohon dan dia berlari salah arah, maka saya mencoba menangkap talitemali yang menjuntai dari leher si kambing. dengan harapan si kambing mau balik arah tentunya! giliran sudah ketangkap, si kambing tetap berlari dengan tenaganya yang super itu, dan saya dengan pintar nya tidak melepaskan pegangan dari talitemali itu. maka sudah jelaslah, saya diseret si kambing, melalui jalan berbukit. singkat kata, saya ditarik si kambing sampai menggelundung, dengan hasil akhir, lecet dimanamana, dan tangan kanan saya terkilir sampe gak bisa nulis. sempat bikin demam pula. dengan kondisi seperti itu, maka didatangkanlah tukang pijat ke rumah, untuk mereparasi tangan kanan saya yang terkilir itu. kejadiannya sekitar belasan tahun lalu, waktu itu saya duduk di bangku SD kelas enam
sejak saat itu, keseimbangan saya mulai membaik, sehingga jarang terjadi kejadiankejadian istimewa yang membuat salah satu ataupun salah dua dari bagian tubuh saya perlu direparasi. semakin kesini, keluhan yang muncul paling hanya berupa pegalpegal yang tak pernah berlanjut ke tukang pijat. ataupun kaki saya yang cepat capek saat berjalan tidak jauh, tapi berulangulang, seperti naik turun tangga, ataupun beredar di pertokoan, tidak membuat saya berkeinginan meluruskannya di tukang pijat.
sampai tadi, entah kesambet apa. saya mengajak kakak saya untuk ke tukang pijat yang kebetulan hanya selemparan tombak jauhnya dari rumah. tukang pijat yang kurang lebih sudah dua tahun kami hidup bertetangga. tukang pijat yang memijat satu badan pula. sebagai pemula dalam dunia pemijatan, saya menganggap itu sebagai langkah berani yang mendobrak kebiasaan saya. soalnya dulu, ada tukang pijat yang datang ke rumah dan hanya memijat kaki saja, saya menolak mentahmentah. lah sekarang, tukang pijatnya memijat seluruh badan malah mau. niatnya sih cobacoba. sekaligus isengiseng berhadiah. lah badan ini kayak semakin remuk redam sajah, je. dan sebagai cobacobanya, yang terlebih dahulu dipijat itu adalah kakak saya
dan dirinya anteng jaya, hanya mendapat sambutan berupa “wah, ini pasti blom pernah dipijat, yah?” dari ibu tukang pijat.
nah giliran saya, baru dipegang telapak kaki nya sajah, ibu tukang pijatnya langsung komentar ini itu. berantakan sekali peredaran darah saya. sehingga menyebabkan migrain. dan susah tidur. bedeuh. jadilah saya direparasi selama tiga jam lebih, diselingi dengan aduh aduh aw aw serta sempat terlintas keinginan untuk berhenti sampai disitu sajah, ketika ibu tukang pijatnya menemukan titiktitik yang sudah kebangedan berantakannya.
pheww. dan hebatnya, saya sudah menjadwalkan untuk TIGA kali pemijatan lagi, untuk hasil yang optimal. *halaaah*
sekarang sih rasanya enakan. kayak abis digebukin orang sekampung. tapi enak. dan agak ringan jadinya. sekarang, untuk lebih enaknya lagi, harusnya saya sudah melanglang buana di negeri kapuk, ngantuknya sudah puol, tapi pengen mencatat kejadian bersejarah ini
jadi, mari berharap, mudahmudahan ga kelewatan waktu sahur dan juga tentu saja, waktu absen *twink*
Tes tes komen,
Hehehe…serasa sperti abis digebukin orang sekampung, tp enak
yayyyy….bisa…bisa komen skarang
jiyaah.. cihuuyy.. makasiyh makasiyhhh, mas