tentang rindu yang sepi

untuk orang-orang yang pernah berpapasan pada perjalanan kita, terima kasih.
sesingkat apapun persimpangan kita di 31 tahun ini.
terima kasih telah menjadi warna dan cerita.
terima kasih telah menjadi ingatan.
terima kasih untuk cinta dan kasih sayang kalian.

mbak dewi

terima kasih telah menjadi ingatan.

ketika sampai pada kalimat ini dalam tulisannya mbak dewi, entah bagaimana, efeknya kepada saya adalah menjadi begitu sedih. dan tautau mata saya sudah berkacakaca. rasarasa nya seperti ditampar. jenis tamparan yang kamu ketahui pantas didapat, sehingga tak bisa marah pun membalas, selain menerimanya, dalam diam.

saya seringkali membicarakan rindu:
rindu kamu, rindu kalian, rindu kita, rindu perjalanan, rindu masamasa bersama, rindu saatsaat itu, rindu pada sebuah kota, rindu pada pesanpesan di sebuah milis, rindu pada rakrak buku itu, rindu pada pesanpesan singkat di suatu masa sebelum telepon pintar yang tak terlalu pintar itu meraja, rindu pantai, rindu pada pucukpucuk gunung, rindu bertemu dengan orang asing, rindu mencatati peristiwa yang bisa menjadi pengingat atau bahan tertawaan.

begitu banyak rindu, yang klo dituliskan akan semakin memberatkan hati dan menggenangkan air mata. rindu yang kalah, pada kalimatkalimat seperti "nanti saja, capek" atau "nanti saja, kerjaannya lagi banyak" atau "nanti saja, gamenya lagi seru". rindu yang ketika lelah telah meluruh, ketika pekerjaan telah cukup berkurang, dan ketika saya tidak sedang melakukan apaapa pun, tetap tak mewujud.

rindu yang patah, karena tak pernah sampai.
rindu, yang akhirnya menjadi ingatan, saja.
rindu yang sepi.

dan sampai beberapa saat yang lalu, sebelum saya membaca tulisan itu, saya masih saja yakin bahwa saya yang ditinggalkan. bukan yang meninggalkan. berdiam diri di balik alasan sedang adaptasi dengan tempat baru, jobdesk yang kurang lebih sama tapi dengan ritme yang baru, serta perihalperihal yang melelahkan bagi saya. dan meyakini bahwa halhal yang saya rindukan itu sedang menjalani ceritanya sendirisendiri tanpa menghiraukan saya. pada akhirnya, saya begitu banyak meminta pengertian, tapi tidak sambil belajar untuk mengerti.

saya, yang begitu mempercayai halhal dalam hidup terjadi dalam gerak yang dinamis, dilengkapi dengan interaksi dua arah bahkan lebih; hanya diam dan menunggu. menjadi pasif. memilih untuk menempati bangku penonton yang paling bagus pemandangannya, melihat peristiwa dalam hidup terjadi silih berganti: kelahiran, kematian, sakit, sehat, perpisahan, pertemuan, serta tahun yang berganti; tanpa terlibat di dalamnya. menghindari komplikasi rasa. menanti halhal jatuh pada tempatnya, tanpa berusaha. untuk kemudian, hilang arah.

*sigh*

the thing about life is:
that no matter how clueless you are,
you just keep moving on,
without possibility to moving back.

forward, and forward.

@justHityou

maafkan saya, orangorang yang saya rindukan, tempattempat yang saya rindukan, halhal yang saya rindukan.
maafkan saya, diri saya yang merindu.
maafkan saya, rindu.

dan, terima kasih, untuk masih selalu mengingatkan saya.

we're beautiful,
we just got lost somewhere along the way

let's start from here, lose the past
change our minds, we don't need a finish line
let's take this chance don't think too deep
of all those promises we couldn't seem to keep

i don't care where we go..

joanna wang - let's start from here

Published by

eva

an arch of colors



One thought on “tentang rindu yang sepi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *