20.08.2008

maksuuuudddddddd????

maksud???

kemaren sore, mampir ke toko buku gramedia tanpa g itu. setelah sumpek dengan pemadaman listrik yang nda abisabis, saya pengen banged membuat diri tersesat di antara rakrak buku tua di toko itu. selain itu, saya pengen juga cari majalah mingguan ini sih, yang entah kenapa minggu lalu gak masuk kota berbudi luhur yang budiman yang sekarang saya huni ini *sigh*

berhubung tokonya gak bisa dikatakan rame banged, maka obrolan antar penjaga tokonya, tanpa niatan saya untuk nguping, teteup saja sampe di telinga saya yang kata kakak memiliki radar yang tokcer untuk mendengar halhal ajaib :P

penjaga toko 1 : eh, ibu nya ibu meninggal hari ini
penjaga toko 2 : oh, pantesan ibu ga keliatan hari ini
penjaga toko 1 : iyah..
penjaga toko 2 : terusterus gimana, ibu nangis donk berarti? hehehehe..

keterangan : ibu yang dimaksud adalah sang pemilik toko buku gramedia tanpa g

ok, ada beberapa hal yang lumayan mengganggu saya dari dialog di atas itu
1. cara kedua orang yang bersangkutan ngobrol itu bergosip banged *halah*
2. terus, menanyakan klo sang pemilik toko [ato menanyakan orang yang berduka] menangis ato ga, maksudnya apa?

sebenarnya sih saya pengen isengiseng nyambung obrolan mereka dengan nanya “emang klo nda nangis kenapa, mbak?” ato “emang klo nangis kenapa, mbak?” ato something like that lah.. ayayayayaya, untung rakrak buku tua itu lebih kuenceng panggilannya daripada keisengan saya :D sekalian saya sadar kok, daripada mendapat pandangan dan pertanyaan “siapa yah?” mendingan saya memenuhi hasrat untuk bercengkrama dengan bukubuku ituh *wink*

ternyata, kedua penjaga toko di atas, baru part satu dari halhal yang bikin saya terheranheran kemaren sore, pas membayar di kasir, lagilagi, tanpa niatan nguping, toh obrolannya terekam juga di telinga saya. kasirkasirnya pun juga terlibat pembicaraan dengan tema yang sama dengan kedua penjaga toko di atas,

kasir 1 : ibu nya ibu meninggal yah hari ini, pantesan tadi malam ada kupukupu masuk ke toko”
kasir 2 : hah?

entah si kasir 2 lagi sibuk melayani transaksi saya, sehingga ga nangkep omongan temannya, ato memang dirinya juga bingung seperti saya dengan pernyataan ajaib temannya itu.

kupukupu masuk ke toko [ruangan/rumah ato apa saja] means ada yang mo meninggal?

sekali lagi aahhh, maksuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuddddddddddd????

*fiuuhh*

gambarnya minjem tanpa izin di sini

18.08.2008

easy

easy...

i am easy, my dear
as easy as sunday morning

gambar dari sini!

12.08.2008

2627/07/2008

kakiku

perjalanan ke Gunung Gede, selain merupakan perjalanan muncak luar pulau yang pertama [tanpa memperhitungkan BTS, setahun yang lalu], juga merupakan salah satu perjalanan ‘push my own limit’. tapi, setelah saya mengingatngingat semua perjalanan saya ke gununggunung, ternyata semuanya layak dilabeli sebagai perjalanan push my own limit juga *sigh* :D

jadi, dengan alasan :
1. saya sudah datang jauhjauh dari pulau seberang
2. kapan lagi saya bisa sebegitu dekatnya dengan Langit yang saya cintai dengan amat sangat sungguh itu?

maka saya melalui perjalanan ke puncak gede, dengan susah payah, sangat makza dan dengan senang hati, tentunya ;)

jembatan

perjalanan yang dimulai dari cibodas ini, menyajikan track yang beraneka ragam disertai pospos pemandangan yang mengenakan, seperti Telaga Biru (1.575 mdpl), Air Terjun Cibeureum, Air Panas (yang saat melewatinya menegangkan tapi bikin nagih!), dan tentu saja, ternyata memakan waktu yang lumayan sangat lama (menurut saya), rasanya kok gak nyampenyampe yak :D kirakira setengah hari lebih banyak, pokoknya. beberapa kali mengalami kram kaki, berkalikali bertemu dengan orangorang yang saling berbagi salam, sapa dan senyum penyemangat, dilengkapi dengan kecepatan kaki saya yang tidak bisa dikatakan cepat, alias selalu tertinggal di belakang, perjalanan menuju base camp Kandang Badak (2.220 mdpl), amat sangat sungguh tak bisa digambarkan dengan katakata, saking melelahkannya dan menakjubkannya *wink* :)

intermezzo satu

sudah pernah mengkhidmati dingin? di base camp Kandang Badak saya sangat mengkhidmatinya, hehe. dingin mencumbui saya dengan penuh cinta, dari ujung jari kaki, tangan sampai rasanya memenuhi otak saya. dingin yang masuk ke dalam kepala, ternyata rasanya tidak enak. sangat tidak enak. dikompilasikan dengan perut yang tak mau menerima segala jenis asupan gizi penambah energi, membuat saya semakin menjadi pesakitan yang terbilang sukses :D

dari base camp Kandang Badak (2.220 mdpl) ke Puncak Gede (2.958 mdpl), normalnya mungkin sekitar dua jam-an, ya? dan saya menempuhnya *mungkin* sekitar tiga jam lebih :) bukan prestasi memang, saya hanya punya semangad yang bergaung berulangulang dalam hati “langitnya sudah dekat, ayo lebih semangad lagi, va! dirimu bisa!” untuk bisa mencapai puncak gunung gede ini, sedangkan tenaga saya sudah ditelan mentahmentah oleh sakit lambung yang saya rasakan.

puncak gede

intermezzo dua

Alun-alun Surya Kencana (2.750 mdpl), tak tergapai, kali ini. mungkin suatu saat saya akan kembali ke sana lagi, untuk menikmati matahari pagi bersama dengan hamparan ladang edelweiss. semoga :)

saya jadi inged kata teman seperjalanan saya dahulu kala sangat, pada saatsaat pertama saya mulai hobi jalanjalan begini,

“va, tenaga kamu memang gak seberapa, tapi semangad dan niat kamu untuk bisa mencapai puncak itu patut diacungin banyak jempol”

haha, entah itu pujian ato cercaan, waktu itu, saya senyumsenyum saja dikomentari seperti itu. sekarang, saya baru sadar, klo itu menandakan betapa keras kepalanya saya, dan seandainya perjalanan saya tidak bersama dengan orangorang yang hebat, tentu saja akan berakibat fatal *wink*

sekali lagi, thank you, kawans ;)

intermezzo tiga

ternyata, ketinggian Gunung Gede (2.958 mdpl) ini melebihi lumayan banyak daripada Gunung Klabat (2.100 mdpl), gunung tertinggi di manado, yang belum pernah saya jamah itu. klo begitu, anggap saja, saya sudah muncak ke Gunung Klabat, bahkan melewatinya! *mgreen*

11.08.2008

chi trova un amigo, trova un tesoro*

langit, hati, dan semesta, memiliki keluasan yang sama luasnya, yang ingin saya kecapi satu per satu, tanpa henti, tanpa batas. dan sekali lagi, saya membutuhkan segala sesuatunya dalam diam. dalam kesendirian yang pekat. bukan mengapa pun tentang apa. hanya ingin menjamahi satu per satu mimpi yang sudah menyata, mengemasinya baikbaik dalam kotak perjalanan milik saya yang tak pernah tertata rapi, hingga sering membuat saya hilang arah, dan kalah pada lupa.

lagilagi saya harus mengakui bahwa saya sedang tersesat. selayaknya sebuah siklus, yang terusmenerus melakukan pengulangannya, lagi, lagi dan lagi.

beriburibu rasa rindu untuk suatu masa, dimana mimpimimpi belum terwujudkan. dan keinginan untuk bermimpi terusterusan hadir seperti bayangan. berjutajuta rasa rindu pada suatu tempat, dimana hanya ada saya, dan segala sesuatu yang tak saya kenali bersanding di sana. kemudian samasama mencoba menemukan formula yang tepat untuk menciptakan suatu kejadian.

life’ll only be crazy as it’s always been
wake up early, stay up late, having debts
things won’t be as easy as it often seems
and yet you want me
this cliche is killing me
still i need more i need more
this i’ve never thought before

chi trova un amigo, trova un tesoro

we can look for many other foreign lines
to make me survive your love
you said “to the future we surrender
let’s just celebrate today
tomorrow’s too far away
what keeps you waiting to love?
isn’t this what you’ve been dreaming of?”

life’s to live and love’s to love

sundays will be empty as it’s always been
watching tv, wake up late, playing dead
mondays won’t be easy with no plans and schemes
now that you’re still here
the silence shouts it clear
you’re still here

to the future we surrender
life’s to live and love’s to love

SURRENDER | FLOAT

*one who finds a friend, finds a treasure

« Previous Page Next Page »