
perjalanan ke Gunung Gede, selain merupakan perjalanan muncak luar pulau yang pertama [tanpa memperhitungkan BTS, setahun yang lalu], juga merupakan salah satu perjalanan ‘push my own limit’. tapi, setelah saya mengingatngingat semua perjalanan saya ke gununggunung, ternyata semuanya layak dilabeli sebagai perjalanan push my own limit juga *sigh*
jadi, dengan alasan :
1. saya sudah datang jauhjauh dari pulau seberang
2. kapan lagi saya bisa sebegitu dekatnya dengan Langit yang saya cintai dengan amat sangat sungguh itu?
maka saya melalui perjalanan ke puncak gede, dengan susah payah, sangat makza dan dengan senang hati, tentunya

perjalanan yang dimulai dari cibodas ini, menyajikan track yang beraneka ragam disertai pospos pemandangan yang mengenakan, seperti Telaga Biru (1.575 mdpl), Air Terjun Cibeureum, Air Panas (yang saat melewatinya menegangkan tapi bikin nagih!), dan tentu saja, ternyata memakan waktu yang lumayan sangat lama (menurut saya), rasanya kok gak nyampenyampe yak
kirakira setengah hari lebih banyak, pokoknya. beberapa kali mengalami kram kaki, berkalikali bertemu dengan orangorang yang saling berbagi salam, sapa dan senyum penyemangat, dilengkapi dengan kecepatan kaki saya yang tidak bisa dikatakan cepat, alias selalu tertinggal di belakang, perjalanan menuju base camp Kandang Badak (2.220 mdpl), amat sangat sungguh tak bisa digambarkan dengan katakata, saking melelahkannya dan menakjubkannya *wink*
intermezzo satu
sudah pernah mengkhidmati dingin? di base camp Kandang Badak saya sangat mengkhidmatinya, hehe. dingin mencumbui saya dengan penuh cinta, dari ujung jari kaki, tangan sampai rasanya memenuhi otak saya. dingin yang masuk ke dalam kepala, ternyata rasanya tidak enak. sangat tidak enak. dikompilasikan dengan perut yang tak mau menerima segala jenis asupan gizi penambah energi, membuat saya semakin menjadi pesakitan yang terbilang sukses
dari base camp Kandang Badak (2.220 mdpl) ke Puncak Gede (2.958 mdpl), normalnya mungkin sekitar dua jam-an, ya? dan saya menempuhnya *mungkin* sekitar tiga jam lebih
bukan prestasi memang, saya hanya punya semangad yang bergaung berulangulang dalam hati “langitnya sudah dekat, ayo lebih semangad lagi, va! dirimu bisa!” untuk bisa mencapai puncak gunung gede ini, sedangkan tenaga saya sudah ditelan mentahmentah oleh sakit lambung yang saya rasakan.

intermezzo dua
Alun-alun Surya Kencana (2.750 mdpl), tak tergapai, kali ini. mungkin suatu saat saya akan kembali ke sana lagi, untuk menikmati matahari pagi bersama dengan hamparan ladang edelweiss. semoga
saya jadi inged kata teman seperjalanan saya dahulu kala sangat, pada saatsaat pertama saya mulai hobi jalanjalan begini,
“va, tenaga kamu memang gak seberapa, tapi semangad dan niat kamu untuk bisa mencapai puncak itu patut diacungin banyak jempol”
haha, entah itu pujian ato cercaan, waktu itu, saya senyumsenyum saja dikomentari seperti itu. sekarang, saya baru sadar, klo itu menandakan betapa keras kepalanya saya, dan seandainya perjalanan saya tidak bersama dengan orangorang yang hebat, tentu saja akan berakibat fatal *wink*
sekali lagi, thank you, kawans
intermezzo tiga
ternyata, ketinggian Gunung Gede (2.958 mdpl) ini melebihi lumayan banyak daripada Gunung Klabat (2.100 mdpl), gunung tertinggi di manado, yang belum pernah saya jamah itu. klo begitu, anggap saja, saya sudah muncak ke Gunung Klabat, bahkan melewatinya! *mgreen*