rasa kecoak*
tadi pagi, ketika saya online via hape, dan mendapati postingan baru berjumlah lima tulisan dari mbak yu ini, ada satu tulisan yang nyangkut, tentang cara membuat komposisi makanan yang berujung pada penganalogian tentang hidup;
dan,
kalo saya, saat mengkonsumsi makanan berkuah, seperti bakso atau soto ayam, atau apapun, selalu saja rasanya ga pernah plain atau polos. saya mesti selalu meraciknya kembali :
ditambahi saos tomat (banyakbanyak)
ditambahi kecap (banyakbanyak)
ditambahi cabe yang sudah diulek (banyakbanyak)
ditambahi garam (sedikitbanyak)
dan terakhir, perasan jeruk nipis (lumayanbanyak)
dan lalu,
ketika semuanya sudah berlebihan dan menghasilkan rasa kecoak *kata kakak saya, bukan kata saya, maka sekali lagi saya menambahkan kecap sebagai penyempurna komposisi rasa makanan itu. biar lebih berasa manisnya, daripada rasarasa yang lain, kilah saya ketika kakak menyoal rasa makanan itu.
dan kemudian,
kalo saya cobacoba ikudikudan menganalogikan cara menakar komposisi untuk makanan itu ke sesuatu yang berskala lebih besar lagi, yaitu HIDUP, maka sebagai kesimpulannya, bisa dikatakan, saya ini drama queen yang mendamba happy ending, yak? *d’oh*
dan kini,
bagaimana dengan takaran komposisi kalian? apakah kirakira akan berujung pada kesimpulan yang sama? -sambil harapharap cemas mencari rekan kerja sebagai drama queen ataupun drama king yang mendamba setitik happy ending-
note : betewe, betewe, out of topic, memangnya rasa kecoak gimana toh? mungkin saya mesti menanyakannya kepada Bapak Sumanto? atau kepada pemeran Sumanto saja, kan cukup mewakili, soalnya menurut artikel entah dimana saat scene antara Sumanto dan Kecoa, si artis memakan kecoa beneran, no tricks! itu lho, artis yang itu, yang dulu turut berperan di 9 Naga, dan sekarang jadi model video klip Hitamku-nya Andra and The Backbone, he’s so cool, keren, cakep, pokoknya gitu deh, saya suka!
*halah*

















