crosspath

we rise and we fall
and we feel like just walking away

maybe we'll live and learn
maybe we'll crash and burn
maybe you'll stay
maybe you'll leave
maybe you'll return
maybe another fight
maybe we won't survive

but maybe,
we'll grow

we're just ordinary people
we don't know which way to go
coz we're ordinary people
maybe we should take it slow
this time we'll take it slow

- ordinary people | john legend

ps. selalu minjem gambarnya @afkus, tanpa izin dahulu, disini.

did i ever told you, that i always love your photographs? and waiting for your writings? *masih sajah edisi nagih mode on* 😀

rasa kecoak*

tadi pagi, ketika saya online via hape, dan mendapati postingan baru berjumlah lima tulisan dari mbak yu ini, ada satu tulisan yang nyangkut, tentang cara membuat komposisi makanan yang berujung pada penganalogian tentang hidup;

dan,

kalo saya, saat mengkonsumsi makanan berkuah, seperti bakso atau soto ayam, atau apapun, selalu saja rasanya ga pernah plain atau polos. saya mesti selalu meraciknya kembali :

ditambahi saos tomat (banyakbanyak)
ditambahi kecap (banyakbanyak)
ditambahi cabe yang sudah diulek (banyakbanyak)
ditambahi garam (sedikitbanyak)
dan terakhir, perasan jeruk nipis (lumayanbanyak)

dan lalu,

ketika semuanya sudah berlebihan dan menghasilkan rasa kecoak *kata kakak saya, bukan kata saya, maka sekali lagi saya menambahkan kecap sebagai penyempurna komposisi rasa makanan itu. biar lebih berasa manisnya, daripada rasarasa yang lain, kilah saya ketika kakak menyoal rasa makanan itu.

dan kemudian,

kalo saya cobacoba ikudikudan menganalogikan cara menakar komposisi untuk makanan itu ke sesuatu yang berskala lebih besar lagi, yaitu HIDUP, maka sebagai kesimpulannya, bisa dikatakan, saya ini drama queen yang mendamba happy ending, yak? *d'oh*

dan kini,

bagaimana dengan takaran komposisi kalian? apakah kirakira akan berujung pada kesimpulan yang sama? -sambil harapharap cemas mencari rekan kerja sebagai drama queen ataupun drama king yang mendamba setitik happy ending- 😆

note : betewe, betewe, out of topic, memangnya rasa kecoak gimana toh? mungkin saya mesti menanyakannya kepada Bapak Sumanto? atau kepada pemeran Sumanto saja, kan cukup mewakili, soalnya menurut artikel entah dimana saat scene antara Sumanto dan Kecoa, si artis memakan kecoa beneran, no tricks! itu lho, artis yang itu, yang dulu turut berperan di 9 Naga, dan sekarang jadi model video klip Hitamku-nya Andra and The Backbone, he's so cool, keren, cakep, pokoknya gitu deh, saya suka! 😳 *halah*

special cast!

disclaimer : ini masih tentang Gunung Gede (mudahmudahan belum bosan). semua penampakan yang ada di postingan ini, tanpa proses editing dan ditampilkan tanpa izin pemiliknya *wink* 😉 enjoy!

punggungnya siapa?

saatsaat bersamamu

mbakheny&mbakshebackpaklambang&masheri

pakiq&mbakhenypaklambang&mbaksheback

kumpulpuncakdon juan, kah?

Kandang Badak

[katanya] candid!

mbakhenyfita

pak afreembak sheback

ini [niatnya] foto di puncak

jauuuhh

dan ini, Air Panas yang saat melewatinya menegangkan tapi bikin nagih itu

airpanasairpanaas

yak, sekian duluw.. fotofoto yang lain masih dalam perjalanan, dan di kantor mati lampu terusterusan, jadi begitulah. sebenarnya, niatnya sih cuman mo bikin jeng diah tambah nyesel lantaran ga ngikud, hehehehehehe.. *peaceeee* -mwah- 😉

selamat berakhir pekan, kawans!

2627/07/2008

kakiku

perjalanan ke Gunung Gede, selain merupakan perjalanan muncak luar pulau yang pertama [tanpa memperhitungkan BTS, setahun yang lalu], juga merupakan salah satu perjalanan 'push my own limit'. tapi, setelah saya mengingatngingat semua perjalanan saya ke gununggunung, ternyata semuanya layak dilabeli sebagai perjalanan push my own limit juga *sigh* 😀

jadi, dengan alasan :
1. saya sudah datang jauhjauh dari pulau seberang
2. kapan lagi saya bisa sebegitu dekatnya dengan Langit yang saya cintai dengan amat sangat sungguh itu?

maka saya melalui perjalanan ke puncak gede, dengan susah payah, sangat makza dan dengan senang hati, tentunya 😉

jembatan

perjalanan yang dimulai dari cibodas ini, menyajikan track yang beraneka ragam disertai pospos pemandangan yang mengenakan, seperti Telaga Biru (1.575 mdpl), Air Terjun Cibeureum, Air Panas (yang saat melewatinya menegangkan tapi bikin nagih!), dan tentu saja, ternyata memakan waktu yang lumayan sangat lama (menurut saya), rasanya kok gak nyampenyampe yak 😀 kirakira setengah hari lebih banyak, pokoknya. beberapa kali mengalami kram kaki, berkalikali bertemu dengan orangorang yang saling berbagi salam, sapa dan senyum penyemangat, dilengkapi dengan kecepatan kaki saya yang tidak bisa dikatakan cepat, alias selalu tertinggal di belakang, perjalanan menuju base camp Kandang Badak (2.220 mdpl), amat sangat sungguh tak bisa digambarkan dengan katakata, saking melelahkannya dan menakjubkannya *wink* 🙂

intermezzo satu

sudah pernah mengkhidmati dingin? di base camp Kandang Badak saya sangat mengkhidmatinya, hehe. dingin mencumbui saya dengan penuh cinta, dari ujung jari kaki, tangan sampai rasanya memenuhi otak saya. dingin yang masuk ke dalam kepala, ternyata rasanya tidak enak. sangat tidak enak. dikompilasikan dengan perut yang tak mau menerima segala jenis asupan gizi penambah energi, membuat saya semakin menjadi pesakitan yang terbilang sukses 😀

dari base camp Kandang Badak (2.220 mdpl) ke Puncak Gede (2.958 mdpl), normalnya mungkin sekitar dua jam-an, ya? dan saya menempuhnya *mungkin* sekitar tiga jam lebih 🙂 bukan prestasi memang, saya hanya punya semangad yang bergaung berulangulang dalam hati "langitnya sudah dekat, ayo lebih semangad lagi, va! dirimu bisa!" untuk bisa mencapai puncak gunung gede ini, sedangkan tenaga saya sudah ditelan mentahmentah oleh sakit lambung yang saya rasakan.

puncak gede

intermezzo dua

Alun-alun Surya Kencana (2.750 mdpl), tak tergapai, kali ini. mungkin suatu saat saya akan kembali ke sana lagi, untuk menikmati matahari pagi bersama dengan hamparan ladang edelweiss. semoga 🙂

saya jadi inged kata teman seperjalanan saya dahulu kala sangat, pada saatsaat pertama saya mulai hobi jalanjalan begini,

"va, tenaga kamu memang gak seberapa, tapi semangad dan niat kamu untuk bisa mencapai puncak itu patut diacungin banyak jempol"

haha, entah itu pujian ato cercaan, waktu itu, saya senyumsenyum saja dikomentari seperti itu. sekarang, saya baru sadar, klo itu menandakan betapa keras kepalanya saya, dan seandainya perjalanan saya tidak bersama dengan orangorang yang hebat, tentu saja akan berakibat fatal *wink*

sekali lagi, thank you, kawans 😉

intermezzo tiga

ternyata, ketinggian Gunung Gede (2.958 mdpl) ini melebihi lumayan banyak daripada Gunung Klabat (2.100 mdpl), gunung tertinggi di manado, yang belum pernah saya jamah itu. klo begitu, anggap saja, saya sudah muncak ke Gunung Klabat, bahkan melewatinya! *mgreen*

hari ini..

dari palu, mestinya jam satu siang, udah pake panikpanik lantaran jam duabelas masih dalam perjalanan dari kantor hendak ke rumah, dengan tambahan packing yang belum sepenuhnya beres banged 😀 , pas sampe di bandara, check in, petugasnya ngomong dengan ramahnya, "pesawatnya delay sampe jam dua siang, mbak". uh-oh, ok then. paniknya saya cuman salah satu proses buangbuang energi ternyata 🙂

lalu, transit surabaya, lima belas menit tanpa turun pesawat, kemudian landing dengan selamat, di cengkareng setengah lima sore *alhamdulillah*

janji temu dengan pak afree di bandara, terus barengan ke gambir, disitu udah nunggu pak iq bersama temannya yang nda mau salaman lantaran saya datang tanpa oleholeh, hehe *peace, pak!* lalu menyusul mas heri yang niatannya, di tempatnya saya akan membongkar muatan yang kata pak iq minimalis, berhubung cuman satu backpack 😀 jadi berpisahlah kamikami sesudah makan malam penuh napsu *halah* saya menuju ke kostannya mas heri, sedangkan pak afree beserta pak iq dan temannya ke pasfest kuningan. maunya pasfest kuningan itu jadi meeting point lagi untuk kemudian samasama menuju daerah kalibata, di rumahnya pak trio, disitu udah nunggu kawankawan laennya yang akan samasama berangkat ke cibodas. tapi tentu saja karena kemacetan khas wiken kota jakarta, ketemuannya langsung di kalibata sahajah.

bonus di kalibata, disana udah ada jeng diah yang kali ini memilih tidak ikut trip ke gede lantaran sibuk kuliah 🙂

berangkat dari jakarta jam sepuluh, langsung menuju ke cibodas. sampe di cibodas tepat jam dua belas malam.

total jenderal pesertanya sebelas orang, dari rencana semula tiga belas orang : pak trio, pak adit, pak sastro, pak afree, pak heri, pak sigit, mbak henny, mbak sheback, saya, dan vita 🙂

fiuuuh.. lumayan.. sekarang bed rest duluw, ngecharge body untuk besok..

kawans, sungguh menyenangkan melakukan perjalanan dengan kalian lagi! thank you! 😉

have a happy wiken, semuah 😀