gerbang aksara

mata angin
aku pergi ke timur
menjemput matahari lebih dini
melihat ranting mentari menerpa rindang pohon
aku berjalan ke barat
bercengkrama dengan matahari senja lebih lama
melihat siluet diri terpaku terpesona
ke utara aku beranjak
menemukan dingin yang hangat
keramahan yang mendamaikan
di selatan ku melihat
cahaya merembes menekuri dinding penantian
membuatku terus-menerus bertahan untuk ada

namanya Arjuna
namanya Arjuna.
tidak perlu tampilan yang tampan untuk sebuah nama yang segagah itu.
yah, tidak perlu tampan.
perawakannya tidak seperti arjuna-arjuna dalam pewayangan.
dia lelaki yang indah dengan kegagahannya sendiri.
jangan kau cari ketampanannya, karena tak akan pernah kau temukan.
ia terkesan angkuh. sebaliknya ia sangat ramah.
dengan senyuman tulus untuk diberikan.
namanya Arjuna.
selayaknya doa dewa dewi. doa seperti itu pula oleh kedua orangtuanya
tersimpan rapi dalam kotak hantaran semesta kepada Empunya
selayaknya doa yang terkabulkan, dia seperti memeluk bumi dalam kehangatan
membawa tenang dan memberikan kasih tanpa berpamrih
itulah Arjuna
pernah berbagi cerita
layak untuk dicintai tidak untuk dimiliki
karena dia berpada kepada yang hidup
sedangkan aku tidak hidup

Potret Hari Pagi
berjalan dalam kesendirian
bertemankan putaran roda nafkahmu yang termakan waktu
terseok dalam kepingan kenangan yang mengalun
tertinggal oleh keangkuhan masa
berdiri diantara embun pagi hari
memutihnya rambut tidak memudarkan pesonamu
tak pekat hadirmu oleh mentari
ditingkahi caci maki yang membekukan hati
Tapi kau tetap tersenyum…

mengalir bersama waktu
mengikuti detik bersama detak
menghitung jejak yang telah tertapaki
merunut mimpi yang menjadi cita
menyulam asa dalam doa
mengalir bersama waktu
mendamba bersama waktu
tertatih bersama waktu
tersungkur bersama waktu
dan kembali lagi mengalir bersama waktu..
aku ada aku tiada
aku diam aku meratap
ada tawa kecil terselip dalam rindu
ada dahaga tertoreh dalam perjalanan
aku mengalir bersama waktu…

through the open window
dari jendela yang terbuka
aku mempertanyakan mimpi
membenahi rasa
merunut kenyataan
aku belajar untuk melihat
belajar untuk mengerti
belajar untuk memahami
masih banyak yang belum terjejak
masih banyak yang belum sempat mengecap
masih banyak yang belum terbagi
dari jendela yang terbuka
aku belajar untuk sedikit lebih bersyukur..

mungkin
bosan kah dirimu
ataukah mungkin pula marah
terkadang aku ingin melesat
hanya untuk kepastian
semua baik baik saja
terkadang
diam itu tak membantu
mungkin..

aku takut..
aku melihat dia melihat ku
aku takut
pada ketakutan yang entah
aku takut di senja yang slalu ku rindukan
aku..
diriku..
waktu..
dia datang menggugah ragu
dia datang hanya untuk mampir
dia datang tanpa menyapa ku
itu yang membuat aku takut
kamu..
dirimu..
waktu..
aku takut
takut
takut
aku takut engkau mengentah bersama waktu

jangan
aku tidak mengenalmu
mungkin aku tidak terlalu mengenalmu
yang aku ketahui
mungkin terlalu sedikit
untuk bisa mengatakan bahwa aku mengenalmu
memang
mungkin terlalu sedikit
untuk sebuah pengetahuan
jangan kau diam terlalu lama
jangan kau menjelaskan dengan kebisuan
jangan kau menjelaskan dengan gaung tanpa aksara
setidaknya lantunkanlah melodimu
agar aku bisa lebih mengenalmu
sayang
ini hanya pinta kecil
dahaga perindu rasa hati

senja dan malam *rindu*
layaknya senja
berkabar tentang waktu
yang menggores langit jingga
menopang hari dalam senyum mu
seperti malam
berkabar tentang pekat
bercumbu dengan gemintang
melukis nama mu di langit hitam
seadanya diriku
tetap mengentah bersama entah
entah keberapa kalinya menoreh entah
diriku pun larut dalam entah
aku rindu..
hanya rindu..
selalu rindu..

……
pagi..
hujan..
tetap bersama rindu yang tak tertebus..
rinai hujan yang setia..
aku yang mendamba..
rindu yang tak terperih..
waktu yang tetap berdetak..
desah bayu membisikkan rasa..
menyampaikan perih hati perindu..
menunggu..
menunggu..
menunggu mu..
dalam tawa..
dalam sedu sedan..
dalam rindu..
rindu..
rindu..
rindu mu dan rindu ku..

bila
ada yang melintas
entah di otak atau di hati
ketidakpedulian menopang bimbang
kepingan yang telah runtuh dan menjadi kepingan lagi
aku hanya ingin rasa itu
tapi di luar masih hujan
bahkan kabut sedang bermain di pucuk pinus
kelabu itu sempat aku genggam dan kukemasi
aku rasa memang belum waktunya..

just say you will..
when i think i have to get use of something
something with so many big-bigger-biggest NO
even for that i have to do some lies..
just let me do
: lie to you
when i think i have to get use of something
then you’re asking me : ‘is-this-i-want?’
so let me yelling straight in your ears
just let me do
: i even don’t know what i want exactly
just let me do
just let it go
and keep it for another crosspath journey of us
all you have to do just say
: yes, i will

setidaknya..
aku bangkit dan terus melangkah pergi
sesekali menoleh, aku masih melihat dia
bertanya-tanya arti aksara dalam setiap beda lariknya
sebanyak itukah kelabu menantiku untuk kuwarnai menjadi biru?
aku bangkit dan terus melangkah pergi
sesekali menoleh, aku masih melihat dia
tertinggal dan hanya untuk dikenang
bukan untuk dikecapi lagi segala rasanya
aku bangkit dan terus melangkah pergi
kali ini aku menoleh, dia hilang ditelan kelam
setidaknya pilihan itu ada
warna-warni atau sekedar hitam putih
kelak suatu saat, entah kapan entah di mana
pilihan itu untuk membuat kita tersenyum..

disini saja dulu
disini saja dulu, karena aku lagi tidak ingin kemana-mana, pun itu dengan kamu
disini saja dulu, jangan ajak aku pergi, pun itu ke tempat indah yang mungkin ada di semesta
disini saja dulu, biar aku bisa menikmati hujan itu. bunyinya, dinginnya, ritmisnya
disini saja dulu, agar sayap itu masih mengepak, semoga tak lelah sampai nanti..
karena dulu di sini, semuanya masih biasa-biasa saja..

manusiakah..?
manusiakah.. tuan?
yang menggenang darah
di tanah gamang
dalam keremangan letih
tempat asa mengambang
manusiakah.. tuan?
yang duduk tenang
menggonggong amarah
dalam remeh-temeh derita usang
dongeng gulita berlangsung sudah
manusiakah.. tuan?
manusiakah.. kita?
gelagat hujan kali ini..
tanpa sekelebat bayangan damai..

hanya pada hujan
saya ingin hujan, tapi saya kira dia hanya datang dan pergi sesuka hatinya tanpa menghiraukan saya. membiarkan panasnya menemani saya hingga saya mengeluh kelu.
saya ingin hujan, menemani saya, bercengkrama di tepian danau yang airnya mengalir dalam malam kelam yang bergelayut manja. apa yang saya temui? hujan berlalu hanya mengejek. dia tidak lagi mengerti saya, itu bisiknya siang tadi.
saya ingin hujan, dan saya menemui awan kelabu bercumbu mesra dengan pucuk pinus di puncak gunung. bukan untuk membawa hujan. pun mengelabui saya. mereka hanya menenggelamkan langit biru yang saya miliki.
hanya pada hujan, saya ingin duduk bersama
tapi dia tidak ingin tinggal lebih lama
dan saya jadi tak berdaya
ya ampun, saya pikir saya mulai gila

ini.. itu..
ini hening
ini senyap
ini diam
ada beberapa desing nyamuk
bergendang tenang di telinga
aku mengenalnya,
kala kusumbat pendengaran
dengan sumpalan kapas
ini hening
ini senyap
ini diam
tapi aku tahu ini bukan sepi
hatiku berdendang riang
cerita tentang damai mimpi
setangkai kembang malam menebar wangi
ini hening
ini senyap
ini diam
dan itu pasti seulas senyum terurai
yang kulihat di cermin yang tidak terlalu buram
hanya pada malam
yang tak lagi sepi
dan pada senyap
yang memiliki suara terhebat

memotret hujan
aku datang, melihatmu yang kembali
melodimu yang begitu anggun
menjeratku berkali-kali
di tepian kaca yang berembun
memandangmu menari syahdu
membuncahkan rinduku
hingga tak berterali
kubiarkan lepas berlari
decak kagum tidak membuatmu jumawa
kamu pekat yang indah dengan irama
sangat lekat terpejam mata
sungguh takjub ku padaNya

rindu
aku tak punya banyak kata
jangan jengah kala ku diam
aku hanya punya segudang rindu
rindu itu..
rasa atau kata kah?

pada hening..
untuk segenggam hening, akan aku relakan bermalam panjang
menenggelamkan gamang pada pekikan kelam
untuk sejenak hening, akan aku lesapi pagi berembun
subuh hari, mendahului jejaring cahaya
hanya pada hening, cerita panjang terasa singkat
rongrongan hati termakan bara, terlindas es
gelisah pengharapan tenang
hanya pada hening..
alkisahku tak jua meregang usang

senandung di atas awan
asanya terselip diantara gunung gemunung
tertumbuk bebatuan
dihempas lelautan
ilalang ilalang tetap gamang berlenggang dengan tariannya
bukan, gamang ini bukan pemutus mimpi
bisik sepoi mengisyaratkan ada
untuk dikecap. bukan sekedar dilihat pun didengar
karena ini bukan tentang hikayat yang diawali dengan kata ’seandainya’
ini hidup
dimana imaji dan harapan bertumpuk
terkadang bisa menjadi sangat berarti
atau bahkan menjadi tak berarti sama sekali

wangi sepi
aku tidak mengenal wangi ini
atau mungkin aku terlalu mengenalnya
sehingga yang kurasa hanya biasa
wangi ini mengikutiku selayaknya aku adalah ibu sumbernya
wangi lembut teman hati kala sunyi
sekilas tersapu bayu tapi terkait di ujung indra
tetap di situ, tidak beranjak pergi
menunggu waktu menjemput penat
ini wangi sepi
yang dulu sering aku lesap aromanya
menemani jarum hati yang mengalir lewat mata
di batas senja yang kali ini tidak jingga

daripada
ingin berlalu pergi
dari senyum
dari tawa
dari asa
dari doa
dari segala sesuatu yang memiliki hidup
ingin jatuh cinta lagi
pada luka
pada tangis
pada perih
pada benci
pada segala sesuatu yang meranggas
dan ingin selalu lagi
dari hati yang tak terketuk
dari cerita yang seharusnya tak pernah ada
pada yang memiliki detak
pada yang tidak pernah berhenti
daripada diam
daripada membatin
daripada berceloteh
daripada menghakimi

langitku, pekatkah?
kemana saja aku?
aku memakai kuas yang dicelupkan kedalam pewarna berwarna apa untuk mewarnai langitku?
pekatkah? kelamkah?
dimana warna biruku yang indah itu?
dimana aku sekarang?
bergelung dengan kepekatan
malahan terus menambah pekat
mengubah pekat menjadi kelam
sedang apa aku sekarang?
memupuk rasa dan menumbangkan asa?
atau terus mengeluh untuk mempertahankan kepekatan?
apa aku menanti hujan lewat kelam?
langitku, pekatkah?

sebenarnya..
tidak butuh hari ini
untuk tahu klo aku merindukanmu

rasa lara
apa dia tahu yang kurasa?
aku harap itu bukan dia
dia yang kerap kali kutakutkan
: lara yang meretas diakhir semua rasaku

entah
seperti puzzle yang belum selesai dimainkan
itulah aku..
masih banyak terdapat lubang-lubang
mungkin tetap akan berlubang tanpa diisi
mungkin tetap akan berlubang karena tak harus diisi
mungkin juga itu adalah bagian-bagian yang tak akan pernah kupahami
sampai kapanpun
aku tetap entah..
tak apa, bukan?
pemahaman tentang jiwa
melengkapi diri
menggenapkan kekurangan
meski dengan pemikiran sendiri..
entah aku tetap..
hidupku hanya sederhana
hari ini berlalu lagi
kukhatamkan doaku, karena Tuhan tidak dibutuhkan pada saat aman
cerita esok akan lain lagi
entah..

menemukanmu (?)
aku menemukanmu lagi
di antara reruntuhan penatku
aku menemukanmu lagi
dan aku berbahagia atas itu
benarkah aku menemukanmu?

apalah aku untukmu, Semesta?
apalah aku untukmu, Bumi?
anginkah untuk menyapu peluh kala penat?
airkah untuk memuaskan dahaga kala kerontang?
apalah aku untukmu, Bumi?
sebuah siluet yang segera memudar oleh waktu
selarik garis yang kelak menjadi titik, karena arah sedang berbalik memusuhi
apalah aku untukmu, Bumi?
terpagut aku pada kenangan
tertohok aku pada asa
apalah aku untukmu, Bumi?
aku hanya jiwa lelah
yang ingin berlabuh dalam lelap yang damai
apalah aku untukmu, Semesta?

kejujuran
kala aku berucap melalui hati
aksara mengapung bukan untuk dilafalkan
takut melintas bersama bayangan pedih
segelap itukah kejujuran?
ada tapi bukan untuk dijamah

ada
ada satu yang sejak dulu ada
aku punya satu itu
bersama menjemput pagi
dan berdua menyapa senja
kala aku membuka hikayat
aku menemukan dia
kala aku menelusuri perjalanan
ada dia disitu
kala aku menerawang asa
serasa aku melihat dia disana
hanya semoga untuk aku lafadzkan..

demikianlah dia
kala itu senja sedang menjelang
ketika aku berusaha menangkap bentangan jingga
di akhir hari yang gemilang
di atas puncak rasa yang tergenang
aku bingung mencari dia
ke manakah dia?
di balik kubah langit kah dia berada?
melenggang bernyanyi memuja bahagia?
demikianlah dia
rinduku yang kembali berpulang
saat malam kelam membungkus bumi

yang pernah ada
apa kabar semua dulu yang pernah ada?
tentang orang-orang yang merindukanku
masihkah kalian merinduku?
apa kabar semua dulu yang pernah ada?
warnaku terganti lagi
warnamu pun berubah nyala
begitu banyak warna-warni lain
yang memantaskan kita untuk tetap tidak bersatu
apa kabar semua dulu yang pernah ada?

pada Waktu
pada langit, yang hujannya pagi tadi membuat saya tersenyum.
pada hujan, yang rintiknya pagi tadi lebih ritmis dan mengundang misteri untuk saya nikmati dengan tidak setengah-setengah.
pada gunung, yang pucuk pinusnya memberikan siluet indah tentang dingin yang hangat yang saya rindukan.
pada laut, yang kabutnya mengatakan saya pernah di sana, jauh sebelum langit dan puncak gunung menyapa saya.
pada Waktu, yang membuat semua ini ada untuk saya nikmati..
pada Waktu, yang membuat saya ada untuk menikmati semua ini
pada Waktu, yang kadang cukup tega untuk membuat saya menangis
pada Waktu, yang tak berkeberatan berbagi tawa dengan saya
pada Waktu, yang terus berputar dan belum berhenti..

asa
untuk semua yang ada
yang pada saatnya tetap akan ditiadakan
untuk semua yang tak pernah hilang
meski telah tiada
untuk sebuah asa
dimana hatiku terpaku

perempuan terkasih
aku memiliki hutang kepada ibuku
hutang yang sama yang juga dimiliki ibuku kepada ibunya
hutang yang sama yang juga dimiliki ibu ibuku kepada ibunya
hutang yang sama yang juga diwariskan ibu ibuku dari ibunya
hutang yang sama yang juga diwariskan dari ibuku
hutang yang sama yang juga akan kuwariskan nanti
begitu seterusnya..
hutang ini ada bukan untuk dilunasi
tapi untuk terus diwariskan
begitulah kodratnya
Perempuan-Perempuan Terkasih
dengan tadahan hati seluas semesta
tak berbatas dan tak berujung

berhentilah bertanya
malam tadi aku bercengkrama dengan ragaku
kala bintang menabur debu nya
kala bulan menggantung merah di dedaunan
kala langit kelam menjadi selimut semesta
ragaku memintaku untuk berhenti bertanya
: tentang bahagia
dan aku sendiri menggenapinya tanpa membantah
: dalam bahagia selalu tersimpan air mata
dan kami sepakat untuk saling membisu
menikmati diam yang hening
sama-sama menyapu air mata yang mengering

selarik garis dalam labirin
mulailah menghitung
berkenanlah dari angka nol
dilanjutkan satu
dilanjutkan dua
dilanjutkan tiga
dilanjutkan empat
dilanjutkan lima
enam..
tujuh..
delapan..
sembilan..
henti
berhentilah menghitung
jangan tergesa mengucap angka
sekiranya hanya itu angka-angka yang perlu diaksarakan
selebihnya adalah kebersamaan dan kompleksitas : Pengulangan Kembali
gambarkan selarik garis dalam setiap jedah angka
selarik garis bermuatan ingin dan cita
selarik garis dengan dialog yang tak perlu panjang
selarik garis yang menghubungkan kita dengan Tuhan : Doa