28.03.2011

my sweet acceptance

we question what we are
this i spent the best so far

saya ingat, dulu saya sempat begitu tidak menyukai pekerjaan saya. sampai berkalikali saya menyurati Tuhan, bertanyatanya kapan hati ini bisa dilapangkan untuk mulai belajar menerima, dan mulai menyukai pekerjaan saya. tentu saja masa itu adalah masa dimana keluhankeluhan terucap setiap hari : tentang rekan kerja, tentang kota ini, tentang gedung itu, tentang angkot yang mengangkut saya ke kantor, tentang rindu rumah, tentang apa saja yang menurut saya salah. air mata begitu gampang meretas, saya terkena sindrom akut rumput tetangga lebih hijau dari rumput di halaman sendiri. masa dimana, kesenangan dan kebahagiaan itu adalah sebuah hitam putih; hitam putih adalah ketika saya merasa ketidaksenangan itu adalah sebuah harga mutlak, klo tidak A, maka tidak mungkin seuatu itu akan menjadi B, C, D, E dan seterusnya. masa dimana saya masih sedikit sekali pengetahuan saya tentang rasa syukur (bukan berarti sekarang sudah banyak pengetahuan saya tentang bersyukur, at least, i’m trying harder than yesterday, and yes, i think it works properly now, and i hope for then). masa dimana saya merasa begitu terikat : jam kerja, jatah liburan dan jalanjalan yang tak bisa seenaknya, aturanaturan tertulis yang tak jarang membuat muak karena dalam pengaplikasiannya tidak seperti itu. dan yang saya inginkan satusatunya adalah lari dari keadaan dan pekerjaan ini.

bertahuntahun surat saya kepada Tuhan itu, saya anggap tak berbalas. hanya menjadi sebuah monolog panjang. yah, sebut saja saya tidak sabaran klo begitu, untuk lebih lengkap lagi, seorang yang tidak sabaran dan tidak tau bersyukur pula (also known as tidak tau malu).

meski begitu, saya tidak bisa begitu saja berhenti untuk percaya.

saya tidak bisa begitu saja berhenti untuk percaya bahwa saat itu akan ada. saat saya bisa tertawa diantara keluh, peluh, dan lelah. saat saya bisa meminimalisasi keluhan tentang tetek bengek pekerjaan. saat dimana try to fit in itu bukan hanya slogan tanpa aksi. saat dimana saya bisa memiliki antusiasme dalam bekerja. saat saya akan bekerja dengan hati dan kebisaan yang optimal sambil mengharap hasil yang juga optimal, bukan lagi tentang sebuah keterpaksaan. saat dimana kalimat you win some, you lose some itu saya pahami dengan tepat sehingga bisa melegakan, dengan sungguh. saat dimana saya akan bertemu dan bekerja dengan orangorang yang hebat dengan caracaranya yang juga hebat, sehingga bisa menjadi tempat saya belajar. saat dimana bekerja itu adalah sebuah aktualisasi diri saya, bukan lantaran jaminan penghasilan yang lebih daripada cukup (klo pun jaminan penghasilan itu ada, anggaplah itu sebagai bonus *wink*). singkat kata, saat dimana saya bekerja tanpa berhenti belajar, dengan hati ikhlas dan syukur yang tak putusputus atas pekerjaan saya.

tahuntahun belakangan ini, saya tau, sesuatu yang saya sebut monolog itu sudah mulai terjawab (maafkan atas ketidaktaumaluan saya). dan percaya saya mulai berbuah satu per satu (alhamdulillah). saya belajar, dengan effort pada tempat dan saat yang tepat, (semoga) dapat menciptakan apresiasi atas apa yang dikerjakan, apapun itu, apresiasi yang dimulai dari dan untuk diri saya sendiri, dan kemudian berujung pada sebuah apresiasi yang tak terhingga, untuk Semesta, tempat segalanya bermula dan akan kembali, atas kecintaanNya membiarkan saya mengalami segala hingga detik ini.

and everything will get better if  i stay for a while
and we’ll find another way to be happy one day
i don’t hate you anymore

maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang bisa saya dustakan?

 

hei, selamat enam tahun diri saya yang bekerja :) semoga tahuntahun mendatang menjadi lebih baik lagi dan belajar lebih banyak lagi, amin ^^

 

p.s. terima kasih untuk Yuna dan lirik lagunya : backpacking around europe dan blue sands.

19.06.2010

19

pulang ke kotamu
ada setangkup haru dalam rindu
masih seperti dulu
tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna

terhanyut aku akan nostalgi
saat kita sering luangkan waktu
nikmati bersama
suasana Jogja

di persimpangan langkahku terhenti
ramai kaki lima
menjajakan sajian khas berselera
orang duduk bersila

musisi jalanan mulai beraksi
seiring laraku kehilanganmu
merintih sendiri
ditelan deru kotamu …

walau kini kau t’lah tiada tak kembali
namun kotamu hadirkan senyummu abadi
ijinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
bila hati mulai sepi tanpa terobati

yogyakarta – kla project

seribuenamratustujuhpuluhenam senja,
seribuenamratustujuhpuluhenam pagi,
dan empat puluh delapan purnama.

:)

kata ‘kita’ itu benar sungguh berupa leburan seorang aku dan seorang kamu.
taburan bintang yang sejenak pindah itu masih di sini, di mata ini.
dan rasarasanya semua terus bertumbuh.

di sini, di hati.

dan merayakannya dengan untaian kalimat, kata dan huruf, sepertinya tak akan pernah cukup.

happy anniversary, my dearest!