kangen:

  • berburu sunset soresore dari jendela lantai dua puluh satu - hampir sebulan ini hujan terusterusan, klo pun tak hujan, awan kelabunya tebal. mataharinya tak kelihatan. bias jingga nya apalagi.
  • 8tracks - oh, how i miss all those songs from random playlist! handpicked by the great djs across the world. simply type the keyword,  and voila, enjoy! that was what i called heaven! 😀
  • kekaleman masyarakat indonesia - ini kenapa tetiba serius? hehehe.. kebanyakan baca berita sepertinya sampe bikin cape.. *sigh*
  • dunia per-blog-an kala itu 😛 - karena blog kala ini, saya seperti gagal paham *errr*
  • harry potter, the books.
  • jude law! - i don't know why, mungkin sudah saatnya nonton the holiday, lagi 😀
  • writing. anything. here.
  • and, you.. of course, you.

 

ps. nda banyak yang dikangenin ternyata, tapi yah gitu deh. huhu. lagi ga jelas. pardon me.
pps. kebiasaan posting sekali sebulan ini harus dihilangkan, dear self!
ayo semangaaad!
*sambil liriklirik poin ke-enam*
*halah*

 

getting here, there, everywhere-anywhere.

sejauh mata memandang

i seem to recognize your face
haunting, familiar, yet i can't seem to place it
cannot find the candle of thought to light your name
lifetimes are catching up with me
all these changes taking place, i wish i'd seen the place
but no one's ever taken me

i swear i recognize your breath
memories like fingerprints are slowly raising
me, you wouldn't recall, for i'm not my former

it's hard when, you're stuck upon the shelf
i changed by not changing at all
small town predicts my fate
perhaps that's what no one wants to see

i just want to scream, "hello..."

my god its been so long, never dreamed you'd return
but now here you are, and here i am

hearts and thoughts they fade, fade away

pearl jam | elderly woman behind the counter in a small town

waw.

terima kasih eddie vedder! 🙂
untuk menulis lirik seperti ini.
dan menciptakan nada seperti itu.
lalu bikin saya mellow soresore. hah!
satu lagu lagi, untuk dijatuhcintai.

terima kasih, oktober!
i see you, when i see you.

one fine day

i like to reminisce about a time i've never had,
a book that no one read,
a film that never made me sad
and you remind me of a place i've never been
and something no one said,
When i was seventeen

remember when we never struggled through,
a bad time we never had,
a love we never fell into,
please don't remind me to forget,
cause forgiveness is a place,
i ain't got use to yet

all i ever wanted,
was to radiate your home,
but i guess it doesn't matter

so come reminisce about a time we didn't have,
i hear there's a sequel to that film that never made you sad,
don't rewrite my history,
cause you never really know how much you didn't mean to me

one fine day,
in the middle of the night,
you wake up in it
but you probably won't admit it

| robbie williams - one fine day

jadi, citacita untuk pulang kantor sehabis maghrib hari ini kandas.

jakarta, diguyur hujan deras berangin sejak sore sampai menjelang isya tadi. sebenarnya, pulang pas hujan badai lagi seruserunya kayak tadi adalah waktu yang pas, karena macetnya blom terlalu, pengguna kendaraan roda dua akan lebih memilih berteduh, dan pengguna kendaraan roda empat masih terjebak macet di jalan keluar kantor atau jalanjalan lainnya. dengan demikian, berarti jalanan depan kantor belum akan terlalu macet. yang berarti APTB tumpangan saya akan tiba lebih cepat daripada biasanya di depan kantor, dan kalo cukup beruntung, APTB tersebut tidak dalam kondisi penuh.

tapi, hujannya beneran ngeri, saudara!

gludukgluduk, kilatkilat, dan berangin. pake payung pun pasti basah juga. beberapa teman yang sudah pamitan dari jam lima saja dan turun ke lantai satu, akhirnya kembali lagi ke ruangan. nah, daripada saya terjebak dan basahbasahan, semangkok mie instant kuah rasa ayam bawang dan beberapa potong cabe rawit, dinikmati bersama beberapa teman sambil ngobrol ngalor ngidul, di sore hari ketika hujan sedang garanggarangnya menggedorgedor jendela di lantai dua puluh satu, jelasjelas adalah pilihan yang lebih menghangatkan *wink*

lalu, apa hubungannya dengan lagunya mas robbie williams di atas?

yah nda ada. saya hanya lagi suka lagu ini. saya baru tau klo mas robbie punya lagu ini. dan saya jatuh cinta dengan liriknya, hehehe.. klo mau maksa untuk teteup ada hubungannya, boleh lah hari ini disebut sebagai one fine day; one fine day yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari lagunya mas robbie, tapi *bigsmile*

baiklah, markipul temans. macetnya sudah rata, malamnya sudah hampir tua. terus, saya memutuskan pulang menggunakan jasa commuterline sajah malam ini. selamat berjuang!

it’s okay to be caught in the rain (:

caught in the rain

akan ada suatu masa di mana kamu tenggelam dalam prasangka, atas diri sendiri, juga atas orangorang yang bersisian dengan kamu karena cerita, cita dan cinta. terutama atas diri sendiri. berprasangka atas hidupmu. prasangka yang bermain dalam kepala, yang menyeret kamu hingga kalut. mengambil seluruh rasa percayamu. dan mungkin juga kemantapan hatimu. atau yang paling buruk, merampas satusatu nya sisa kekuatanmu: harapan.

lalu akan muncul lagi pertanyaanpertanyaan itu:

kaki, sudah sampai di mana engkau melangkah?
sudah berapa besar tanah jejakanmu?
bila hingga kini mimpi tak juga menemukan jalannya, pada apa dan siapa harap ini hendak dilabuh?

kemudian, kamu ketakutan.

disertai dengan amarah yang semakin lantang.
dengan langkah yang semakin gamang.
dengan resah yang semakin mengguncang dunia kecil dalam kepalamu.
yang tidak juga membawamu bergerak, selain merasa semakin hilang.

kemudian, ketakutanmu menjadijadi.

karena kamu tau, kali ini kamu tak akan bisa lari kemanamana. karena kamu tau, menghilang sejenak tak akan menyelesaikan pun melapangkan. kamu sendiri, termakan prasangkamu. mungkin kamu terlalu malu untuk meminta, karena doadoamu telah berdesakdesakan. atau mungkin juga, kamu terlalu sombong untuk meminta, karena kamu terlalu terbiasa sendiri. mungkin.

yang kamu tau, kamu harus menghadapinya. menguraikannya satu per satu. membaginya dalam komposisi yang tepat. mencatatinya. menelaahnya. kamu paham sekali rumusnya, tapi tidak bisa mengaplikasikannya. ada bagian yang terlewatkan, yang tidak kamu ketahui apa, sehingga rumusnya tidak berfungsi. kalau saja hidup itu adalah ilmu pasti, yang akan cukup dengan menggunakan logika, mungkin bagian ini akan kamu lewati dengan mudah. mungkin.

tapi, ketakutanmu tak juga surut.
malah dirimu terasa semakin kecil.
semakin susut.
semakin kerdil.

lalu apa?

kamu masih saja ketakutan, semakin sering menangis dalam diam, semakin merasa sendiri, mulai kelelahan. bersirebut dengan waktu bukanlah keahlianmu. yang terlintas di benakmu hanyalah berhenti, bukan untuk selamanya. hanya berhenti. sejenak melupakan dirimu yang ketakutan. dan melakukan hal yang paling bisa kamu lakukan, yang mungkin satusatunya keahlianmu: mendengarkan.

tanpa disangkasangka ternyata membebaskanmu. mendengarkan ketakutan itu dari orang lain. membiarkan ketakutan itu mewujud dalam katakata orang lain. yang ternyata tidak akan memakanmu hiduphidup. lalu, kamu membiarkan orang lain mengetahui ketakutanmu. dalam sebuah obrolan panjang.

kamu dan ketakutan yang menyusutkanmu,
yang sedang menggigil di bawah hujan.

dan mungkin, pada akhirnya kamu akan merasa baikbaik saja.
harapanmu perlahanlahan menyala kembali, tak lagi hilang arah.

mendengarkan yang membuat kamu merasa didengarkan.

dan klo kamu cukup beruntung, bisa untuk mengingatkanmu:
tentang kekecilanmu, tentang semesta ini yang sungguhlah teramat luas,
tapi selalu siap menangkapmu yang sedang jatuh.

i owe the pic and the title! 😉