tentang musim yang tak tercatat

i have seen the rain
i have felt the pain
i don't know where i'll be tomorrow
i don't know where i'm going
i don't even know where i've been
but i know i'd like to see them again

sudah september. empat bulan lagi berarti pergantian tahun. cepat yah? duaributigabelas tautau sudah mau habis. mungkin bumi berputar lebih cepat, dan harihari semakin ringkas. waktu seperti berjalan di luar saya. atau saya saja yang memang terlalu malas 🙂

sudah september, dengan musim yang masih saja tak tentu. dalam musim yang tak tentu itu pun, niatan untuk mencatati peristiwa di sini, masih saja tak terpenuhi. dan rindu saya membanjir jadinya. tak kunjung melapangkan. halaman ini akhirnya terlantar begitu saja. merugi sih klo kata saya 😀

jadi, di september ini, saya ingin mencoba membuat nyaman halaman ini, sekali lagi. melonggarkan jalinan peristiwa yang mulai tak beraturan. mengurai rindu yang tak habishabis. mencatati, daripada terjebak menghitung langkah kaki sedari pagi hingga dijemput malam. agar tak habis cerita, oleh rinai hujan, pun di tengah teriknya matahari.

untuk melapangkan hati.
for my own sake.

we have seen the rain, together
we have survived the pain, forever
oh it's good to home again
its good to be with my friends
it's good to feel that rain

pink - i have seen the rain

karena mungkin,

there is no time

the past,
the present,
and the future,
are all side by side,
hand in hand.
you move and change,

yet you go nowhere:
everything stays the same

time doesn't really exist.

unlike me - kate havnevik

tidak seperti yang terlihat, tidak sempat terbagi, silang peristiwa dan patahan waktu yang kerap membuat kita lupa arah dan kehilangan jarak pandang dengan titik awal yang semakin hari semakin mengabur dirajam gulungan hari. karena delapan puluh enam ribu empat ratus detik itu tidak pernah menjadi milik kita secara utuh. iyah, karena waktu yang tepat itu tidak pernah bisa dirumuskan. dan iyah, karena jarak yang telah berhasil dipangkas itu pun belum bisa mengalahkan rindu yang merajai ruangruang di hati. karena jauh tidak begitu saja hilang dengan adanya bersama.

kamu, memahaminya dengan baik, kan?

saya harus memulainya.
segera.
pelanpelan, saya akan memulainya.

🙂

ps. seringsering lah melepas tawamu di pagi hari, karena bagi saya, yang baru mencoba belajar mengerti pagi, untuk dapat mencintainya sepenuhpenuhnya dengan mungkin, kombinasi antara tawamu serta langit jingga pagi hari (ternyata ada jingga di pagi!) the great moodbooster ever! so there i called, my patronous 😉

pps. meski begitu, jingga nya sore di pucukpucuk pencakar langit, di jalur kereta api stasiun itu, masih saja lebih memerangkap tarikan nafas saya dengan lebih sungguh 😀

pensieve

tentu saja saya kangen dengan halaman ini
serindurindu nya rindu yang bisa merindu.

banyak yang sudah lewat, tanpa sempat tercatati, yang membuat saya kesulitan menetap, menemukan keseimbangannya. semuanya seperti menderuderu, berpacu, melaju berebutan mengambil tempat.

dan demikian, rindu ini pun semakin rapat,
dengan jalinan waktu yang tak beraturan,
sampai membuat sesak napas,

mungkin saya memang harus mengambil langkah ke belakang terlebih dahulu,
pelanpelan mengeja ingatan, perlahanlahan mengurutkan rangkaian rasa..

dan semoga rindu ini akan lebih melapangkan..

counting down

garagara mengingat ini adalah hari terakhir kerja di tahun ini, bawaannya jadi gak produktif. jadi gak ada target harus menyelesaikan ini itu. bawaannya mau santai sajah.

aroma liburan dan perayaan nya terlanjur kental.

setiap berpapasan dengan orang kantor, pertanyaan yang ada: "malam taon baru mau ngapain? mau kemana? sama siapa?" (eh, kok jadi berasa lagu, haha)

jadi yah begitu. dengan semangad seperti itu, ujungujungnya, giliran ada yang ngomongin kerjaan, gak bisa fokus (hah!) 😀

dan, uhm, tak sabar untuk bertemu kamu!
i see you when i see you, love 🙂